banner 728x250

Ada Penggiringan Opini di Hak Angket

Pendukung hak angket adalah pendukung Ganjar Pranowo. Nanti duluuuuuuu......

banner 120x600
banner 468x60

Apa isu yang paling marak saat ini? Betul. Hak angket. Hak angket ini dicetuskan oleh salah satu pasangan kontestan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Beliau tidak terima dengan peroleh suaranya yang sangat rendah dan menduga adanya kecurangan dalam pemilu. Karena itu, beliau mendesak partainya untuk mengajukan hak angket melalui wakil-wakil mereka di DPR.

Kita tidak akan membahas apa itu hak angket, lalu berapa persen dari anggota DPR harus mendukung supaya hak angket tersebut dapat diusulkan. Yang menjadi fokus penjelasan saya kali ini adalah jumlah pendukung hak angket.

banner 325x300

Yang saat ini menjadi rujukan untuk mendukung hak angket adalah survey Litbang Kompas yang baru-baru ini diadakan. Untuk intermezzo (sekedar informasi) saja, menjelang pelaksanaan pemilu, Litbang Kompas juga mengadakan survey yang melibatkan 1364 orang dari seluruh Indonesia. Temanya adalah tentang calon Presiden yang akan dipilih oleh responden. Pada saat itu, elektabilitas Prabowo-Gibran unggul jauh dibandingkan pasangan GaMa.

Pada saat itu, banyak suara yang muncul. Salah satunya adalah ‘Ketua Litbang Kompas diancam sehingga suara PraGib unggul jauh dibandingkan suara GaMa’. Tetapi pada akhirnya, survey itu terbukti dengan kemenangan pasangan PraGib atas pasangan GaMa.

Nah, sekarang, survey Litbang Kompas yang dulu ditolak, sekarang dipakai sebagai acuan. Survey tentang hak angket ini melibatkan 500an, tepatnya 512, orang responden dari seluruh Indonesia. Jauh lebih sedikit dibandingkan survey sebelumnya yang melibatkan 1300an orang.

Dalam jajak pendapat itu, 62,2% responden mendukung diadakannya hak angket oleh DPR. Dari hasil ini, muncul pelintiran dan penggiringan opini yang apabila ditelaah lebih lanjut akan terlihat banyak sekali celahnya.

Responden yang mendukung hak angket itu, 62,2%, dianggap sebagai pendukung GaMa. Memang tidak salah kalau muncul pemikiran seperti itu, karena yang mencetuskan hak angket sendiri adalah capres dari GaMa.

Lalu dimunculkan opini, karena 62,2% adalah pendukung GaMa, berarti pendukung riil PraGib hanya 37,8%. Lalu bagaimana bisa menang dengan perolehan suara 58%?

Opini ini selanjutnya  digaungkan sehingga kesan pemilu curang semakin kuat dan usulan hak angket mendapatkan dukungan yang lebih luas.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang harus diwaspadai tentang opini yang muncul itu (yang saya tulis dengan huruf miring/italic).

  1. Responden Litbang Kompas adalah anonim

Perlu diketahui, pemilihan responden untuk survey (jajak pendapat) Litbang Kompas dilakukan secara acak (random). Dalam arti, peneliti Litbang Kompas tidak menargetkan seseorang atau siapapun untuk menjadi responden. Mereka melakukan jajak pendapat lewat telepon. Jadi dalam hal ini, responden tidak diketahui orangnya (anonim). Saya tidak mengatakan bahwa respondennya tidak jelas. Tidak. Hanya tidak diketahui orangnya, atau namanya disembunyikan untuk menjaga kerahasiaan responden. Dan hal itu sah-sah saja dalam sebuah survey.

Karena diadakan secara acak, tidak tertutup kemungkinan bahwa mayoritas responden adalah pendukung GaMa. Tetapi ada kemungkinan lain, para responden tersebut mayoritas pendukung GaMa dan Amin. Ada juga kemungkinan bahwa mayoritas adalah pendukung PraGib. Yang jelas, kita tidak tahu respondennya siapa dan mereka mendukung siapa dalam pemilu kemarin.

 

  1. Responden Ingin Statusnya Lebih Jelas

Dalam setiap hajatan pemilu, selalu saja ada pihak yang mencetuskan kata ‘pemilu curang’. Bahkan pak Mahfud MD sendiri jauh-jauh hari sudah mengatakan bahwa akan ada pihak yang mengatakan bahwa pemilu itu curang. Bahkan beliau mengatakan sesuatu yang kurang lebih isinya begini: Sehari setelah pemilu, pasti ada pihak yang mengatakan pemilu itu curang. Dan hal itu terbukti bukan?

Hal itu pasti menimbulkan kegaduhan di dalam masyarakat. Media massa dan media sosial diisi dengan kegaduhan pemilu curang itu. Orang-orang pasti menginginkan ketenangan paska pemilu. Mereka menginginkan siapapun untuk move on dari pemilu karena pemilu sudah selesai. Kita tinggal menunggu hasilnya saja. Tetapi kalau satu-satunya jalan untuk move on itu adalah lewat hak angket, sudah pasti orang akan mendukung.

Jadi, siapapun itu, terlepas dari mereka mendukung siapa dalam kontestasi pemilu, mereka menginginkan ketenangan. Mereka menginginkan kejelasan yang bisa diterima semua pihak.

Pihak PraGib sudah menerima hasil pemilu. Sementara pihak GaMa masih menginginkan hak angket, maka siapapun akan mendukung hak angket itu. Supaya apa? Supaya semuanya jelas dan semua pihak menerima hasil pemilu. Supaya semua pihak bisa move on dan melanjutkan hidup mereka.

Jadi, entah itu pendukung PraGib atau yang lain, pasti menginginkan ketenangan dan kejelasan. Maka mereka mendukung hak angket tersebut. Jadi, di dalam 62,2% itu, pasti ada komposisi pendukung PraGib, pendukung GaMa, dan pendukung Amin.

 

  1. Responden Ingin Membungkam Kepongahan Pencetus Hak Angket

Alasan yang ketiga ini berhubungan dengan alasan yang kedua di atas. Jika Anda membaca artikel saya tentang kecurangan pemilu (silahkan klik di link sumber di bawah artikel ini), sangat sulit untuk muncul adanya kecurangan. Untuk lebih jelasnya, silahkan klik link di bawah dan membaca artikel saya tersebut.

Karena itu, mereka mendukung hak angket. Supaya ketika ditemukan kecurangan di beberapa TPS (Tempat Pemungutan Suara) lalu diadakan pemungutan suara ulang, mereka (masyarakat) akan memberi pelajaran pada orang-orang yang menimbulkan kegaduhan politik paska pemilu. Mereka (mungkin) akan memberikan pelajaran dengan cara memilih pasangan lain. Mereka yang pada pemilu lalu memilih paslon nomor 3, akan memilih paslon nomor 2. Apakah mereka tertarik pada program-program paslon nomor 2? Jawabannya adalah TIDAK. Mereka melakukan semua itu semata-mata untuk membungkam ‘kepongahan’ paslon yang sudah menimbulkan kegaduhan.

Hal itu terbukti di beberapa tempat yang mengadakan pemungutan suara ulang. Kebanyakan di tempat-tempat tersebut, suara paslon nomor 3 justru turun. Yang pada pemungutan suara tanggal 14 Februari kemarin pasangan nomor 3 menang, pada saat pemungutan suara ulang mereka kalah.

Melihat alasan-alasan di atas tadi, kita tidak boleh menyatakan bahwa suara 62,2% pendukung hak angket adalah pendukung paslon 3. Siapa tahu, justru mayoritas pendukung hak angket adalah pendukung paslon nomor 2. Mengapa? Ya, itu tadi. Alasan nomor 3 di atas.

 

Salam sehat Indonesia.

 

Sumber:

https://nasional.kompas.com/read/2024/03/04/11193931/survei-litbang-kompas-622-persen-responden-setuju-hak-angket-untuk-selidiki

https://www.spartannusantara.id/pemilu-curang-pasti-terstruktur-dan-sistematis/

banner 325x300