banner 728x250

Anies Curi Start?

banner 120x600
banner 468x60

Hari-hari ini  banyak  beredar berita tentang Anies Baswedan  yang  membagi-bagikan ‘sesuatu’ pada acara mudik  gratis  bareng pemprov DKI. Orangpun  ramai-ramai menganggap dia mencuri start kampanye Presiden.  Betulkah demikian?  Mari kita telaah.

Istilah   mencuri start itu pasti berhubungan  dengan  suatu  perlombaan  bukan? Nah, mari  kita mengandaikan  adanya sebuah  perlombaan. Kita andaikan  saja kita mengikuti lomba Moto  GP.   Lomba yang diadakan di Mandalika yang baru lalu. Kita andaikan saja.

banner 325x300

Dalam  lomba  Moto GP, kita melihat adanya adanya lintasan atau trek balapan. Tentu saja ada panitianya, kan? Tidak mungkin sebuah kegiatan lomba tidak ada panitianya. Kemudian, pasti ada motor yang dipakai untuk balapan. Ada Honda, ada Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan lain-lainnya. Apakah  hanya itu saja? Tentu saja tidak. Masih ada satu lagi yang paling menentukan, yaitu pembalapnya. Suatu lomba Moto GP tanpa diikuti pembalap nantinya hanya akan menjad semacam balapan Tamiya.

Nah, ketika akan berlomba, mereka akan menunggu di garis yang sudah ditentukan. Mereka di situ, sambil memanaskan motor mereka. Gas motor akan digeber supaya motor cepat panas dan siap diadu. Selain itu juga untuk menarik perhatian penonton. Betul tidak?

Saat pembawa bendera menurunkan bendera yang mirip papan catur itu, para pembalap siap-siap untuk menarik gas motor. Ketika lampu hijau menyala, merekapun berlomba sekencang-kencangnya untuk dapat sampai di garis finish dan menjadi pemenang.

Baik, sekarang kembali ke kasus Anies Baswedan  ini. Kasus yang dikatakan sebagai mencuri start. Dan itu pasti berhubungan dengan lomba kan? Nah, perlombaan di sini adalah Kontes Pemilihan Presiden RI 2024.

Apakah trek lombanya ada? Ada. Namanya Kampanye Pemilihan  Presiden RI 2024.

Panitianya ada? Ada.  Namanya Komisi Pemilihan Umum yang biasa disingkat KPU.

Motor yang dipakai untuk lomba, ada atau tidak?  Ada. Banyak. Ada PDIP, ada Golkar,  ada Gerindra, dan lain-lain.

Pembalapnya, ada atau tidak? Siapa yang ‘menaiki’ PDIP? Siapa yang ‘menaiki’ Gerindra, atau Golkar? Atau yang lain? Tidak ada kan?

Lalu kapan lampu hijau untuk para ‘pembalap’ di Kontes Pemilihan Presiden RI 2024 menyala?

Kita tidak tahu. Bahkan siapa saja pembalapnya kita tidak tahu. Bahkan kapan perlombaannyapun kita belum tahu. Nah,  kalau pembalapnya saja kita belum tahu, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Anies Baswedan mencuri start? Bahkan kita juga tidak tahu apakah Anies nanti menjadi salah satu ‘pembalap’ atau bukan.

Saat ini yang dilakukan Anies baru mencari ‘motor’ yang akan dia kendarai nanti di lomba itu. Dia baru mencari perhatian agar dilirik oleh ‘pabrikan’, dalam hal ini adalah Partai Politik.  Apa yang dilakukan oleh Anies sama seperti apa yang dilakukan oleh Ganjar Pranowo, Erick Thohir, dan Jokowi. Hanya cara mereka yang berbeda.

Kok ada nama Jokowi di situ? Nah, itulah bedanya dengan yang lain. Kalau yang lain berusaha mencari ‘motor’, kalau Jokowi pabrikannya yang mengajukan nama pembalapnya. Hanya saja, kasus Jokowi terganjal regulasi. Tapi kalau seandainya  regulasi diubah, berarti wacana 3 periode sudah digaungkan sejak sekarang. Dan itu mencuri start atau tidak?

Sama saja kan, dengan kasus Anies Baswedan? Cuma caranya saja yang berbeda. Tapi esensinya sama. tapi artikel saya ini tidak menyoroti kasus itu. Jadi, intinya, curi start atau tidak?

Kalau kata Uncle Muthu, “Anda faham?”

 

#Warasbernegara

 

Sumber foto:

https://www.suara.com/news/2022/04/29/165355/dituduh-bagi-kaos-kampanye-apa-isi-paket-yang-dibagikan-anies-baswedan

banner 325x300