Bahaya Di Balik Pidato Anies Yang Tidak Bisa Membedakan Antara Batik dan Jarik

Viral, pidato Anies yang tidak bisa membedakan antara batik dan jarik. Dalam video yang singkat itu, yang mungkin memang tidak utuh lagi, Anies menyampaikan:

“Dan yang namanya batik itu dipakainya kain, bapak ibu. Batik itu dipakainya untuk sarung. Tidak baik. Tidak ada orang pakai batik di buat baju,” ujar Anies.

Kain itu yang dipakai di bawah, dipakai untuk baju. Dan ketika pertama kali digunakan, orang menengok ini tidak sopan. Ini Pelanggaran. Diikuti banyak orang. Sekarang jadi baju batik identitas Indonesia. Pelanggaran itu,” imbuh Anies.

Anies Baswedan yang katanya orang Jogja, ternyata tidak bisa membedakan batik dan jarik. Meskipun dia ngomong tentang sejarah batik, tetap saja hal itu menunjukkan tidaktahuannya tentang perbedaan antara kain batik dan kain jarik.

Secara singkat dapat kita bedakan, batik itu adalah motif hiasan di kain atau baju. Sementara jarik adalah kain yang dipakai sebagai bawahan kebaya. Dan biasanya memang selalu bermotif batik.

Sementara, batik sendiri adalah seni menghias kain dengan cara menulis/melukis di atas kain. Jadi antara batik dan jarik sangatlah berbeda.

Memang, kain jarik hampir selalu bermotifkan batik. Tetapi secara fungsi, sangatlah berbeda.

Belakangan, ada beberapa sanggahan dari Anies dan Nasdem tentang pidato Anies tersebut. Dan dari pidato serta sanggahannya, saya semakin melihat adanya bahaya di balik kata-kata pidato Anies tersebut.

  1. Memakai baju batik adalah sebuah pelanggaran

Dalam pidatonya, Anies mengatakan bahwa penggunaan batik sebagai baju adalah sebuah pelanggaran. Pada awalnya orang melihat, lalu menganggap orang yang memakai baju batik sebagai sebuah hal yang tidak sopan. Pelanggaran itu akhirnya menghasilkan batik sebagai pakaian nasional yang diakui dunia.

Anies secara tidak langsung mau mengatakan bahwa baju batik yang kita pakai itu awalnya adalah sebuah pelanggaran. Sebuah tindakan yang melanggar hukum. Meskipun diakui dunia internasional, sebuah pelanggaran tetaplah pelanggaran.

Apa arti kata melanggar? Melanggar berbeda dengan melakukan terobosan. Ketika kita menggunakan kata melanggar, ada konotasi negatif di kata tersebut. Ada sebuah tindakan yang dilakukan secara tidak baik dan tidak sesuai dengan aturan. Karena itu, suatu pelanggaran haruslah mendapatkan hukuman atau sanksi.

Jadi, ketika kita menggunakan batik, kita melakukan suatu pelanggaran. Kita melakukan suatu tindakan yang tidak baik. Dan karena itu, haruslah dijauhi dan tidak dilakukan. Dengan kata lain, orang diajak untuk tidak memakai batik karena memakai batik adalah sebuah pelanggaran.

  1. Mengajak untuk melanggar hukum

Dalam pidato itu, Anies bahkan menekankan bahwa di dalam dunia pendidikan, haruslah kita lakukan pelanggaran-pelanggaran. Dalam penjelasannya, Anies menyampaikan isi pidato lengkapnya. Selain bagian awal yang sudah saya kutip di atas, ada beberapa tambahan lain.

Coba, diingat-ingat, nggak ada. Batik itu dipakainya untuk kain, lalu atasnya kebaya. Kemudian terjadilah pelanggaran atas pakem itu, kain itu yang dipakainya di bawah dipakai untuk baju dan ketika pertama kali digunakan orang menengok ini nggak sopan pelanggaran nggak ngerti pakem, diikuti banyak orang, sekarang jadi baju batik identitas Indonesia. Pelanggaran itu sekarang menjadi kebiasaan baru. Bapak ibu, di bidang pendidikan mulailah pelanggaran-pelanggaran baru. Itu tapi, kalau kita terkunci dengan pakem dalam tanda kutip, maka nggak muncul kebaruan dan universitas swasta punya ruang terobosan lebih banyak dibanding yang lain. Ruang itu lebih besar untuk melakukan inovasi-inovasi sehingga muncul terobosan-terobosan dalam interaksi dalam proses pembelajaran.

Dalam pidatonya tersebut, secara jelas Anies memberikan arahan untuk memulai pelanggaran-pelanggaran. Dia tidak menggunakan kata ‘terobosan’. Padahal sudah jelas bahwa kata pelanggaran mengandung arti negatif yang membuat pelakunya mendapatkan hukuman. Sementara, kata terobosan lebih bernuansa positif dan pelakunya akan mendapatkan reward atau hadiah karena melakukan sesuatu yang baru.

Misalnya begini, ada kasus seorang kepala sekolah menggunakan uang BOS untuk kepentingan pribadi, apakah itu pelanggaran atau terobosan? Karena itu sebuah pelanggaran, jadikanlah itu sebagai sebuah kebiasaan supaya muncul inovasi dan terobosan-terobosan baru. Tentu saja terobosan baru dalam hal ‘menilep’ uang. Seperti itukah?

Anies itu seorang doctor. Dia juga pandai merangkai kata. Saya yakin, dia tahu apa yang dia katakan akan selalu diingat orang. Karena itu, pidatonya itu akan selalu ada di dalam pikiran banyak orang. Dan banyak orang ‘teracuni’ dengan ide-ide dan gagasan-gagasannya yang berbahaya.

Sayang sekali, banyak orang terjebak pada ketidaktahuan Anies untuk membedakan batik dan jarik. Ketika banyak orang mengkritik hal itu, dengan mudah muncul jawaban. Dan jawabannya selalu klise, ‘lihat video utuhnya.’ Lalu akan terlihat bahwa tidak ada yang salah dengan pidato Anies. Padahal, di balik kata-kata Anies ada banyak kata yang mengandung bahaya.

Mungkin tulisan saya di atas adalah bentuk ketakutan saya. Tetapi saya sadar, Anies seorang doctor dan kata-katanya lebih berbahaya dibanding kata-kata kita-kita yang suka nongkrong di angkringan. Semoga kita tetap mampu berpikir jernih.

 

Salam sehat Indonesia.

 

Sumber:

https://www.suara.com/news/2022/12/15/190246/perbedaan-kain-jarik-dan-batik-anies-baswedan-dianggap-tak-bisa-membedakan-keduanya

https://m.merdeka.com/politik/penjelasan-lengkap-anies-baswedan-soal-video-pelanggaran-pakai-baju-batik.html?page=2