Belajar Agama dari Abdul Somad dan Sudjiwotedjo

Aneh, tokoh agama tapi malah dicekal oleh negara tertentu. Bukannya agama bawa rahmat? Kok tokohnya sekaliber Abdul Somad ditolak?

abdulsomad:Cnn.com

Abdul Somad kembali jadi topik hangat beberapa hari belakangan ini. Bukan karena ceramahnya, kali ini karena pencekalannya oleh Singapura.

Aneh, tokoh agama tapi malah dicekal oleh negara tertentu. Bukannya agama bawa rahmat? Kok tokohnya ditolak?

Membaca bukunya Sudjiwotedjo dalam salah satu dialog tokohnya berbicara mengenai orang beragama. Umat yang terkungkung oleh dogma agama, dan bersikukuh dengan itu, tanpa mau keluar dari kontekstualisasi, akan saleh, namun susah untuk kreatif dan inovatif.

Ini fakta yang sering akan menimbulkan kemarahan jika lagi-lagi di hadapi dengan perasaan berdosa dan mengingkari agama. Padahal tidak demikian.

Beragama itu juga terbuka untuk mengadakan pembaruan pemahaman. Benar dogma itu sudah akan tetap, namun cara beragama dan penafsiran pasti akan lain.

Prof. Budi Purwokartiko menuliskan, kalau buruh migran Indonesia di luar negeri, seperti Jepang mulai terkikis karena pengusaha di sana lebih memilih tenaga dari Vietnam atau Kamboja. Mereka tidak membawa cara beragama dalam ranah kerja.

Pernyataan rector di ITK ini selanjutnya mengatakan, bekerja juga adalah ibadah. Ini pasti akan direspon dengan kemarahan, padahal tidak demikian. Beragama sudah seharusnya juga semakin toleran bukan arogan.

Ustad Abdul Somad dilarang masuk ke Singapura, karena pihak pemerintahan di sana merasa tokoh yang cukup terkenal di sini itu bisa membawa pengaruh buruk. Sikap itu diambil karena rekam jejak ceramahnya selama ini.

Apa yang dilakukan itu seolah salah bagi Singapura, namun bagi UAS itu adalah benar dan satu-satunya kebenaran.

Pihak lain sudah salah, tanpa mau melihat lebih jauh. Padahal seharusnya mau menerima bahwa pihak lain juga memiliki unsur-unsur kebenaran.

Hidup bersama itu harus mau tahu bahwa pihak lain juga memiliki pemahaman dan cara pandang yang berbeda. Nah, ketika orang memaksakan kehendak dan kebenaran hanya satu sisi, ini adalah masalah.

Apalagi bangsa ini hidup dengan pluralitas yang demikian banyak, bukan semata agama, bahasa, suku, dan begitu banyak yang lain.

Perbedaan harus disikapi dengan arif bukan malah dibesar-besarkan. Menemukan persamaan sekecil apapun jauh lebih penting.

Keberanian melihat yang berbeda bukan sebagai musuh. Ini jelas mutu dan kelas dalam beragama. Jika berani memandang perbedaan sebagai sebuah lawan, tidak akan menjadi lebih baik. Padahal yang dominan, terutama di media sosial seperti ini.

Artikel ini bukan bicara soal agama, membahas soal cara orang beragama. Jadi, sebenarnya yang melihat agama dengan biasa, akan menerima dengan biasa. Yang marah dan meradang masih perlu belajar lagi melihat perbedaan.

Memang masih perlu banyak pembelajaran dan waktu untuk bisa lebih baik. Karena selama ini begitu banyak pembiaran dan malah seolah dimanfaatkan bagi kepentingan politik.

Kesadaran bagi pecinta negeri ini yang kudu lebih gede, juga sabar, karena narasi yang mereka kembangkan memang menyasar cara beragama yang tidak dewasa.(*)

Salam Waras

Susy Haryawan, pendukung tagar #WarasBernegara, #SayaSPARTAN, pegiat literasi.