Opini  

Bjorka dan Fenomena Literasi Masyarakat.

Bjorka, kata yang aslinya dari Polandia ini begitu populer di kalangan netisen Indonesia akhir-akhir ini.

Bjorka diasosiasikan dengan
hacker yang menurut pengakuannya sudah melakukan hacking kepada beberapa instansi di Indonesia.

Bjorka dikatakan telah mengambil data sebanyak 1,3 Milyar dari pendaftaran SIM CARD. Kok jumlahnya besar banget , sekitar 5 kali dari jumlah penduduk Indonesia?
Saya kok meragukan ada jumlah pendaftaran SIM Card sebanyak itu, karena sebagaimana kita ketahui penduduk Indonesia yang memegang HP belumlah 100%. Memang betul sebagian ada yang memiliki lebih dari satu telepon genggam.
Pada sisi lain umumnya masyarakat tidak suka gonta ganti nomor HP, karena malah merepotkan, kecuali memang para oknum yang berniat melakukan kejahatan.

Menurut saya sih apa yang dikatakan mahluk lokal yang bersembunyi dibalik nama Bjorka ini hanyalah untuk menciptakan sensasi dan ketakutan masyarakat saja.

Sejak awal ketika Bjorka muncul dan mengatakan telah mencuri data sebesar 1,3 Milyar dari pendaftaran SIM Card yang kemudian ditanggapi dengan konyol oleh Dirjen Aptika Kominfo, sebagian netisen sudah menyerang Kominfo bahkan sampai meminta Presiden mengganti Johnny Plate selaku Menkominfo.

Bahkan sampai anggota DPR RI juga mempertanyakan hal tersebut kepada Menkominfo Johnny Plate.

HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan Sekjen Kornas Jokowi juga meminta Presiden untuk mengganti Menkominfo Johnny Plate karena dianggap tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Menurut saya, agak aneh kalau orang yang dianggap sebagai tokoh tidak memeriksa terlebih dulu aturan yang ada tapi cepat berkomentar.

Dalam Perpres No 28 tahun 2021 disebutkan bahwa yang bertanggung jawab terhadap keamanan data pada leading sector adalah BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara).

Tentunya BSSN tidak bekerja sendiri. Seluruh yang berkepentingan ternasuk masyarakat pemilik data juga wajib menjaga data pribadinya dengan baik.

Jadi kalau kemudian para tokoh malah ramai-ramai menyalahkan Johnny Plate, sebenarnya ada apa?

Diluar dari adanya kepentingan pribadi ataupun kelompok yang mendasari serangan kepada Johnny Plate, menurut saya banyak masyarakat termasuk para tokoh yang harus meningkatkan literasinya sehingga tidak terjadi asal ngomong.

Mengenai Bjorka sendiri yang mengklaim sudah melakukan hacking kepada beberapa instansi di Indonesia ternyata setelah dikuliti oleh hacker yang sebenarnya, Bjorka bukanlah hacker yang bisa dibilang jagoan.

Data yang dia klaim sebagai hasil hacking ternyata adalah data yang memang sudah berserakan di dunia digital.

Jadi ternyata Bjorka ysng sempat oleh sebagian netisen dianggap sebagai pahlawan yang berhasil mengganggu pemerintah ternyata hanyalah orang iseng yang bukan berkwalitas unggul.

Lalu, siapakah sebenarnya Bjorka yang mengaku punya sahabat orang Indonesia yang tinggal di Warsawa dan tidak bisa pulang ke Indonesia karena kebijakan pemerintah orde baru?

Menurutnya, orang Indonesia tersebut sekarang sudah meninggal dunia dan apa yang dilakukan oleh Bjorka ini adalah wujud simpatinya kepada almarhum.

Menurut saya, nggak jauh jauh kok.
Bjorka hanyalah orang lokal yang berafiliasi kepada kelompok tertentu yang ingin menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Presiden Joko Widodo, demi kepentingan Pilpres 2024 nanti.

Dengan tingkat kepuasan masyarakat yang begitu tinggi kepada Presiden Joko Widodo, maka tak pelak lagi, Jokowi akan menjadi faktor penentu dari kontestasi 5 tahunan, yaitu PilPres pada 2024 nanti.

Tokoh yang didukung oleh beliau untuk meneruskan semua yang sudah dilakukan dan memimpin roda pemerintahan Indonesia, akan berpeluang besar memenangkan Pilpres 2024.

Menurut saya, faktor inilah yang diincar dan ingin di degradasikan oleh kelompok di belakang Bjorka.

Bagaimana menurut teman-teman?

Salam Spartan, Roedy.

#Warasbernegara.
#SayaSpartan.

Sumber :

https://www.tvonenews.com/berita/nasional/66925-nasib-johnny-g-plate-di-ujung-tanduk-menkominfo-didesak-mundur-secara-terhormat