Catat! Ekonomi Indonesia Cepat Pulih Antara Lain Berkat Transaksi Digital

Momentum pandemi Covid-19 menjadi pemicu percepatan digitalisasi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.  Khususnya negeri ini, di mana Presiden Joko Widodo telah mengambil langkah cepat untuk memaksimalkan potensi Indonesia melalui inisiatif transformasi digital.

Lanjut dieksekusi massif oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Plate dengan melaksanakan amanat tersebut, kemudian merampungkan peta jalan digital Indonesia 2021-2024.  Nyatanya, terbukti di kemudian hari, pascapandemi Indonesia mampu bertahan, dan bahkan bangkit.

Kuncinya adalah transformasi digital, yang merupakan salah satu dari tiga isu utama yang diusung Indonesia sebagai Presiden dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 2022. Selain dua isu lainnya, yaitu transisi energi berkelanjutan, dan arsitektur kesehatan global.

Gaung transformasi digital optimis disampaikan oleh Alternate Chair Digital Economy Working Group G20, Dedy Permadi yang memaparkah salah satu pembahasan Indonesia bersama negara Anggota G20 berkaitan dengan pemanfaatan teknologi digital untuk pelaku UMKM agar bisa bertahan dan mengembangkan usaha lewat go digital atau online.

Di forum ini Pemerintah Republik Indonesia memperjuangkan hasil konkret dalam KTT G20 agar memiliki manfaat bagi masyarakat Indonesia dan dunia, salah satunya pemanfaatan teknologi digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

“Jadi bagaimana ruang digital bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dunia untuk pulih dari keterpurukan pascapandemi Covid-19.  Ketika UMKM itu go digital atau online, mereka kemudian bertahan atau bahkan bisa mengembangkan usahanya,” ungkapnya.  Dikutip dari: kominfo.go.id

Apa yang disampaikan Indonesia adalah sebuah bukti.  Nyatanya ekonomi Indonesia terpulihkan berkat transformasi digital, berkat pertumbuhan UMKM digital!  Mereka yang di pelosok sebagai contohnya, tetap dapat bertransaksi di belahan dunia lain.  Tidak hanya kerajinan khas Indonesia, tempe saja bahkan bisa ditawarkan online dan menarik minat masyarakat Jepang!

Dunia mungkin tidak mengira atau terpikirkan sebelumnya, bahwa keberadaan ruang digital telah memungkinkan kita tetap bisa berinteraksi, sekalipun tidak secara fisik.  Fakta teknologi telah menggeser kehidupan.  Jika sebelumnya seluruh aktivitas dan transaksi harus face to face secara fisik, maka ini tidak berlaku di ruang digital.  Tentunya disini teknologi memegang peranan penting.   Artinya transformasi digital menjadi kunci demi mewujudkan pemulihan ekonomi pascapandemi khususnya.

Kenapa, sekali lagi sebab Indonesia sudah membuktikannya terlepas dari keterpurukan!   Fakta keterbatasan interaksi tidak berlaku di ruang digital!  Sehingga kondisi inilah yang memungkinkan perputaran roda ekonomi pun tetap bisa berjalan.  Bahkan tidak hanya itu, transaksi digitalpun berjalan paralel menjadi hal yang lumrah di kehidupan masyarakat Indonesia kini.

Lihat saja di keseharian kini.  Siapa yang tidak mengenal nama besar Gofood dan Grabfood.  Di dalamnya juga bergabung beberapa pengusaha rumahan yang menawarkan berbagai panganan yang bisa dipesan secara online.  Tidak jarang mereka diantaranya adalah yang coba bangkit saat pandemi beberapa waktu lalu.

Inilah kemudahan, sekaligus kenyamannya yang ditawarkan di era digital.  Tinggal memilih apa yang disuka, demikian juga untuk pembayaran dipermudah dengan keberadaan e-wallet, semisalnya OVO yang telah terafiliasi dengan Grab.

Semakin hari pertumbuhan ekonomi lewat go online kini semakin marak.  Kita saja bahkan bisa memesan oleh-oleh khas daerah tanpa harus mengunjungi daerah tersebut.  Sebagai contohnya, untuk bisa menikmati Roti Menoel ataupun Bakpia 75 khas Jogyakarta, cukuplah dengan memesan secara online langsung dari Kota Jogya.  Kemudian pembayaran secara transfer, dan barang diterima sehari setelah transfer.

Tidah hanya itu, kini para ibu rumah tangga semakin banyak yang memanfaat komunitasnya untuk menawarkan masakan rumahan misalnya, ataupun salon bahkan.  Kembali, hebatnya, ketika bertransaksi tidak lagi melibatkan tunai.  Nyaris kini semua pembayaran dilakukan secara digital, pilihannya, e-wallet, transfer ataupun QRIS.

Kondisi inilah yang membuat ekonomi Indonesia tidak terpuruk pascapandemi.  Dikarenakan aktivitas ekonomi tetap terjaga sekalipun interaksi fisik dibatasi. Masyarakat di dorong untuk semakin kreatif dan inovatif bertransaksi di ruang digital, tanpa dibatasi ruang dan waktu, dan tanpa sekat kesulitan pembayaran.

Melihat dinamika yang terjadi, maka tidak hanya ekonomi terpulihkan.  Tetapi di dalam masyarakat telah terjadi pergeseran, yaitu:

Siap memasuki kehidupan era digital
Menaruh kepercayaan bertransaksi online seperti halnya transaksi konservatif
Gaya hidup yang semakin dinamis
Alat pembayaran semakin dipermudah.  Tidak lagi secara tunai, tetapi “cashless” dengan transfer ataupun QRIS.
Masyarakat semakin melek dengan teknologi dan perbankan.
Tidak bermaksud takabur, sekalipun tahun 2023 diramalkan menjadi tahun yang sulit.   Namun tetap optimis Indonesia mampu melaluinya dengan baik.  Tentunya, selain kondisi politik tanah air yang harus terjaga, maka kunci lainnya adalah pertumbuhan ekonomi digital.

 

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Transaksi Digital Terbukti Pulihkan Ekonomi Indonesia”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/desyana58165/63727eb808a8b556e23952a2/transaksi-digital-terbukti-pulihkan-ekonomi-indonesia?page=all#section1

Kreator: Desy Pangapuli

 

Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com