Derita Korban Pencabulan Sekolah SPI

Penderita pencabulan atau pelecehan seksual menderita banyak hal yang tak terbayangkan. Karena itu, pelaku harus dihukum.

ilustrasi pencabulan

Penderitaan korban pencabulan tidak hanya pada hal yang berhubungan dengan, maaf, seksual, tapi juga hal yang lain, yang kadang tidak kita bayangkan sebelumnya. Untuk itu, lewat artikel ini, saya mengajak Anda semua untuk melihat dengan hati nurani yang jernih dan memberikan empati pada korban.

Saya mengambil kasus yang terjadi di sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Batu, Jawa Timur. Pelecehan diduga dilakukan oleh pendiri sekolah SPI. Sebut saja namanya JE.

Semua korban berjenis kelamin perempuan. Jumlahnya minimal 20 orang yang diduga dilakukan sejak tahun 2009.

Kalau korbannya hanya 1 atau 2 orang, orang masih bertanya-tanya. Tetapi ketika jumlahnya sangat banyak, kita langsung bisa curiga dan yakin, telah terjadi kasus seperti yang diduga itu, yaitu pencabulan. Mari kita mencoba melihat dari sisi korban.

Sebagai korban pada kasus SPI ini, saya ingin memberikan sedikit ilustrasi bagaimana penderitaan sebagai korban pada kasus pelecehan seksual yang diduga terjadi pemerkosaan pada korban.

  1. Kehilangan Keperawanan

Harta paling berharga dari seorang wanita, sejauh yang saya tahu, adalah keperawanannya. Ketika seorang gadis kehilangan keperawanannya, timbul rasa hina, rendah diri. Apalagi bila hal itu dilakukan oleh seseorang yang tidak dia cintai. Harta yang paling berharga, yang seharusnya diberikan pada calon suaminya kelak, justru direnggut oleh orang yang tidak dia cintai. Secara terpaksa pula. Tidak ada kerelaan dalam dirinya. Hidup serasa hancur. Tetapi dia tetap harus tegar, harus melanjutkan hidup untuk mencapai cita-cita yang dia idamkan selama ini.

  1. Mengalami Tekanan Batin

Mereka, para korban itu, datang ke sekolah SPI dengan harapan yang membumbung tinggi. Mereka kebanyakan berasal dari kalangan tidak mampu. Karena itu, mereka sangat senang ketika diterima di sekolah SPI karena sekolahnya gratis dan tidur di asrama.

Harapan mereka cerah. Tetapi harapan mereka itu terenggut oleh tindakan sang pendiri sekolah SPI.

Mereka tidak bisa pulang ke rumah karena mereka takut hal itu akan mengecewakan orang tua mereka. Karena orang tua mereka juga memiliki harapan yang tinggi bahwa anak mereka akan menjadi anak yang lebih baik daripada mereka. Anak yang dapat menyejahterakan keluarga kelak. Apa yang akan terjadi bila mereka pulang dengan membawa derita?

Mereka tidak bisa pulang. Tapi di sisi lain, mereka juga tidak tenang ketika berhadapan dengan si pendiri sekolah itu. Setiap kali mereka berpapasan dengan JE, ada rasa tidak nyaman, rasa ketakutan bila pemerkosaan itu terjadi lagi.

  1. Mengalami Penganiayaan

Kasus pencabulan ini tidak hanya terjadi sekali. Terjadi berkali-kali dan selama beberapa tahun. Bagaimana mungkin para korban itu mau melayani JE? Apakah mereka sukarela? Apakah setelah dipaksa dan mengalami tekanan batin, mereka akan sukacita dan senang bila dipanggil dan dicabuli lagi? Anda dapat menjawabnya sendiri.

Bila itu terjadi lagi, dapat dipastikan ada unsur penganiayaan. Entah itu penganiayaan secara fisik dengan kekerasan atau penganiayaan secara verbal. Paling tidak akan disertai dengan ancaman-ancaman yang membuat korban tidak berkutik.

Apa yang akan terjadi bila selama bertahun-tahun korban mengalami kekerasan secara fisik dan verbal? Silahkan Anda membayangkannya sendiri.

  1. Mengalami Eksploitasi

Dalam kasus SPI ini, ternyata ada indikasi terjadi eksploitasi siswa untuk dijadikan tenaga kerja di tempat usaha milik JE dan mereka tidak mendapatkan upah yang layak. Bahkan tidak mendapatkan upah karena mereka dianggap melakukan praktek kerja lapangan.

Mungkin memang kenyataannya seperti itu. Tetapi praktek kerja lapangan dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Hanya dalam kisaran 3-4 bulan. Sementara itu, para siswa di SPI dipekerjakan selama bertahun-tahun. Memang, hal ini perlu dibuktikan lebih lanjut. Tetapi bila memang betul-betul terjadi, alangkah kasihannya para siswa tersebut.

Mungkin masih ada penderitaan lain yang tidak sempat saya sampaikan. Dan saya yakin pasti ada. Penderitaan batin mereka kadang harus mereka tutupi dengan senyum getir supaya orang lain, terutama keluarga, tidak tahu apa yang mereka rasakan. Mereka seakan menjadi manusia bermuka dua. Dan mau tidak mau mereka harus melakukannya meskipun itu tidak sesuai dengan hati nurani mereka. Satu hal yang pasti, penderitaan itu akan terbawa seumur hidup mereka. Dan karena hal itu pula, si pelaku harus DIHUKUM.

 

Salam sehat Indonesia

 

Nugraha, pegiat literasi media

 

Sumber gambar:

https://jatim.inews.id/berita/terjadi-sejak-2009-ini-modus-pencabulan-pemilik-sekolah-spi-terhadap-para-korban