Generasi Z Rentan Radikalisme dan Intoleransi?

Benarkah internet ancaman bagi keutuhan bangsa?

Generasi Z Rentan Radikalisme dan Intoleransi
Generasi Z Rentan Radikalisme dan Intoleransi

Generasi Z dan milenial adalah kelompok generasi yang rentan terhadap radikalisme adalah fakta!  Sekalipun di sisi lain justru keduanya adalah kelompok yang telah terliterasi digital dengan baik.  Sehingga sangatlah beralasan jika Kominfo berharap keduanya dapat mengambil peran penting di tengah derasnya arus informasi di negeri ini.  Khususnya untuk membentengi bangsa dari paham radikalisme dan sikap intoleransi.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.  Sedangkan intoleran adalah ketidak-mampuan menahan diri tidak suka kepada orang lain, atau tidak tenggang rasa.

Generasi Z dan Generasi Milenial, Siapakah yang Dimaksud?

Generasi milenial atau Generasi Y lahir di rentang waktu 1980 – 1996, dan merupakan generasi pertama yang dapat disebut sebagai digital native.  Inilah yang membuat milenial sangat mandiri,  Tidak lagi harus bergantung pada orang lain untuk memecahkan masalah mereka atau pun mengajari mereka banyak hal, karena mereka memiliki internet untuk itu.

Sedangkan Generasi Z dikenal juga sebagai generasi iGen, lahir di rentang 1996 – 2012.  Mereka adalah generasi yang memiliki hubungan dekat dengan dunia maya dan segala aktivitasnya kini dengan mudahnya dilakukan di dunia maya.  Mereka telah mengenal teknologi bahkan akrab dengan gawai yang canggih, nyaris sejak lahir.

 

Generasi Z Rentan Radikalisme dan Intoleransi
Generasi Z Rentan Radikalisme dan Intoleransi (sumber: https://geotimes.id).

Kita melihat ini sebagai sebuah kemajuan, tetapi sesungguhnya ini kondisi rawan.  Kenapa, karena Generasi Milenial dan Generasi Z adalah kelompok yang paling aktif di media sosial.  Di mana justru doktrin radikalisme dan intoleransi semakin marak beredar luas di media sosial.  Sementara bangsa ini mengharapkan mereka sebagai penerus negeri.

Fakta yang terjadi kini, banyak orang terpapar radikalisme lewat HP.  Artinya, kini tidak lagi secara fisik di perkumpulan-perkumpulan. Begitu banyak portal-portal yang isinya konten-konten negatif, menyebarkan radikalisme dan intoleransi tanpa disadari mencuci otak generasi bangsa ini.

Tidak heran jika ada orang tua dan keluarga terkecoh, menilai si anak dianggap anak baik.  Benar, secara fisik keberadaannya di rumah.  Tetapi, mereka terlena, ancaman dunia maya itu mengerikannya karena merusak pikiran dan logika.  Sedemikian “halusnya” hingga sanggup mencuci otak, dan membalikkan sudut pandang dan cara berpikir.  Terlebih jika kita bicara anak muda yang sedang mencari jati diri.

Mengambil cerita nyata Khaira Dhania, seorang anak muda yang terpapar intoleransi dan radikalisme lewat media sosial.  Dirinya mengaku terpapar konten-konten intoleransi dan radikalisme lewat media sosial.  Pada tahun 2015, ia bersama keluarganya pergi ke Suriah untuk mewujudkan keyakinannya tentang kekhalifahan.  Ia mengaku kerap mendapat dan menyebarkan konten berita mengenai propaganda ISIS tanpa mengecek kebenarannya.

“Saya dulu itu termasuk orng yang kalau ada berita tidak di-cross-check.  Saya telan bulat-bulat. Seiring waktu, saya sadar apa yang saya lakukan salah,” tukas pelajar SMA di Jakarta ini.  Dikutip dari: bbc.com

Kembali diakui Khaira, ketertarikannya pada konten karena ingin mempelajari agama secara simpel dan menarik.  Kondisi yang sangat mudah ditemukan di dunia maya saat ini.  Dunia maya memanjakan dengan banyaknya konten dikemas menarik dan dalam durasi singkat.

Ngeri sedap sudahlah pasti, sebab ini peluang emas bagi paham radikal, dan golongan muda adalah target empuk kaum teroris.  Apalagi jika mengusung isu agama, dipastikan laris manis.  Hingga sanggup memecah belah persahabatan, menyakiti keluarga dan bahkan menghancurkan ideologi bangsa.

Satu contoh nyata lainnya, pelaku bom bunuh diri di gereja Katolik di Makassar, Sulawesi Selatan pada tahun 2021.  Pelakunya pasangan suami istri dari kelompok usia milinial, yang kemudian diketahui sebagai anggota Jamaah Ansharut Daulah atau JAD.  Kelompok yang berafiliasi dengan kelompok yang menamai diri mereka Negara Islam atau ISIS.

Generasi Z, Target Radikalisme dan Intoleransi?

Pendapat seorang peneliti terorisme dari Universitas Malikussaleh Aceh, Al Chaidar saat ini fenomena yang terjadi JAD tidak lagi mencari targetnya dari pesantren, melainkan pengguna internet.

“Kebanyakan mereka [perekrut] menggunakan media sosial, mereka membahas tentang jihad dan makna mati syahid supaya bisa masuk surga. Mereka tawarkan shortcut to heaven, jalan pintas ke surga,” kata Al Chaidar.  Dikutip dari: bbc.com

Apakah ini tidak menyedihkan dan mengerikan?  Justru Generasi Milenial dan Generasi Z yang diharapkan mampu meliterasi bangsa di tengah derasnya arus informasi, tetapi terperangkap oleh paham teroris?  Kelompok yang berniat mengganti Pancasila sebagai ideologi bangsa dengan khilafah?

Bak buah simalakama, menitipkan bangsa ini kepada Generasi Milenial dan Generasi Z sebab merekalah generasi melek teknologi.  Tetapi di saat bersamaan bahaya mengintai mereka, dan dengan kata lain keutuhan bangsa pun dipertaruhkan.

Inilah fakta bahwa pencarian diri, keingintahuan dan kebebasan berselancar di dunia maya bukanlah tanpa bahaya.  Kenapa, karena tidak hanya, paham radikal dan intoleransi yang masif di dunia maya.  Bahkan perekrutan hingga tutorial perakitan bahan peledak pun dapat dilakukan via mendsos.

Ehhhmmm…. kemudian pertanyaan kita selanjutnya, apakah radikalisme dan intoleransi juga terjadi di keyakinan agama lain?  Maka jawabannya, ya!

Kasus di Poso dan Ambon adalah contohnya, radikal berbasis agama Kristen yang tumbuh di negeri ini.  Mereka memang tidak berniat menggganti Pancasila.  Tetapi, mereka tumbuh karena dilatarbelakangi dan sebagai perwujudan perlawanan terhadap kelompok radikal lainnya, (maaf) dalam hal ini Islam.

Miris, karena kita semua sesungguhnya adalah Indonesia.  Tetapi, rentannya negeri ini sebab keberadaan internet dan media sosial sulit membendung arus informasi yang menyesatkan, dan hoaks yang juga kerap berujung kebencian di antara anak bangsa.

Sejatinya, sebagai generasi melek teknologi juga harus dibarengi kecakapan memilah informasi yang benar dan kredibel.  Artinya, tingkat literasi digital haruslah tinggi agar tidak tersesat pada informasi hoaks.

Bagaimana Menyikapi

Kemudian apakah yang harus dilakukan agar milenial dan Generasi Z dapat membentengi diri dari radikalisme dan intoleransi, adalah sbb:

  1. Sikap kritis orang tua terhadap anak yang terpapar radikalisme dan intoleransi
  2. Menyempatkan sesekali mendampingi anak ketika berselancar di dunia maya
  3. Membangun komunikasi antara orang tua dan anak, dan sebaliknya
  4. Generasi muda diharapkan aktif dalam kegiatan-kegiatan positif ataupun berorganisasi, misalnya olahraga, seni dan sosial.
  5. Memanfaatkan ruang digital untuk menggali potensi diri

Singkat cerita penulis berpendapat, melek teknologi tidak cukup untuk menjawab kemajuan bangsa!  Penulis setuju dengan pendapat Kominfo, bahwa Generasi Milenial dan Generasi Z negeri ini harus menjadi agen perubahan, dan memfasilitasi perbaikan literasi digital warga Indonesia demi keutuhan bangsa.

Saya, Gendhis yang mencintai negeri ini.

_____

*Gendhis, pegiat literasi media, pendukung tagar #WarasBernegara, #SayaSpartan

 

Sumber:

https://www.indonesiatech.id/2022/06/06/berantas-radikalisme-kominfo-imbau-masyarakat-bijak-berinternet-di-media-sosial/

https://www.gramedia.com/best-seller/gen-z/

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-47308385

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56547431

https://www.minews.id/news/ini-dia-kelompok-radikal-berbasis-agama-kristen-di-indonesia

https://www.krjogja.com/berita-lokal/diy/generasi-z-diharapkan-jadi-agen-literasi-digital/2/

https://www.idntimes.com/news/indonesia/lia-hutasoit-1/bnpt-millennial-dan-gen-z-berpotensi-tinggi-terpapar-radikalisme