Gerakan Literasi Media

Literasi media dapat dipahami sebagai sebuah perspektif yang digunakan oleh publik untuk memaknai pesan yang mereka terima dari media. Tulisan ini mencoba menguraikannya.

Literasi Media
Literasi media

Kemunculan gerakan literasi media (1) tidak dapat dilepaskan dari perkembangan peradaban manusia modern di mana kita seakan berenang di lautan media. Demikian derasnya arus data dan informasi dari media tersebut sehingga kemampuan untuk menghadapi dan menyikapinya menjadi penting. Kegiatan konsumsi media (2) perlu dilandasi oleh kesadaran dan pengetahuan agar kita tidak menjadi korban dari media itu sendiri.

Literasi media dapat dipahami sebagai sebuah perspektif yang digunakan oleh publik untuk memaknai pesan yang mereka terima dari media (Potter, 2008:19). Dengan demikian, literasi media merupakan sebuah upaya agar audiens (konsumen media) memiliki pemahaman yang  baik mengenai media massa, peran dan fungsinya, serta efek negatif dan positif dari konten media massa tersebut. Ia adalah sebuah gerakan untuk mengenal media lebih dekat dan memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya untuk kemudian memilih media yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Media sebagai Pelaku Komunikasi Massa

Ciri-ciri utama komunikasi massa ialah bahwa sumber komunikasi massa bukanlah satu orang, melainkan suatu organisasi formal dan sang pengirim seringkali merupakan komunikator profesional. Pesannya unik, beraneka ragam, serta dapat diperkirakan. Hubungan antara pengirim dan penerima bersifat satu arah dan jarang sekali bersifat interaktif. Hubungan tersebut juga bersifat impersonal, bahkan mungkin sekali seringkali bersifat non-moral dan kalkulatif, dalam pengertian bahwa sang pengirim biasanya tidak bertanggung jawab atas konsekuensi yang terjadi pada individu dan pesan yang dijualbelikan dengan uang atau ditukar dengan perhatian tertentu (McQuail, 1987:33-34).

Kebutuhan akan informasi pada diri para audiens ditangkap oleh media. Secara masif, media kemudian mendistribusikan informasi dalam cakupan variasi yang luas, khususnya mengenai isu-isu yang sedang mengemuka (3).

Setelah memahami hal-hal tersebut, menjadi semakin jelaslah bahwa terdapat urgensi bagi audiens untuk mengenal dan memahami literasi media.

Lima Elemen Literasi Media

Dalam Baran (2004), ahli media Art Silverblatt  mengatakan bahwa ada lima elemen dari  literasi media, yakni: (Baran, 2004:50-53)

  1. waspada akan dampak media
  2. pemahaman tentang proses komunikasi massa
  3. strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan-pesan media
  4. pemahaman isi media sebagai naskah yang menyajikan pengetahuan budaya dan kehidupan kita
  5. kemampuan untuk menikmati, memahami, dan mengapresiasi isi media.

Lima elemen literasi tersebut sejalan dengan konsep audiens aktif (Biocca, 1998:54) yang mempunyai karakteristik selektif dalam proses konsumsi media yang mereka pilih untuk digunakan, sadar dan sengaja mengonsumsi media dalam rangka suatu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan tertentu, aktif berfikir mengenai apa yang menjadi alasan mereka mengonsumsi media, dan tahan dalam menghadapi pengaruh media (impervious to influence) atau tidak mudah dibujuk oleh media itu sendiri.

Literasi Media dalam Perspektif Teori Uses and Gratifications

Elemen-elemen literasi di atas juga menempatkan audiens sebagai pihak yang perlu sadar dan secara aktif melakukan proses kognitif dalam aktivitas mengonsumsi media. Hal ini selaras dengan teori uses and gratifications yang pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz pada tahun 1974 lewat bukunya, “The Uses on Mass Communications: Current Perspectives on Gratifications Research” (Nurudin, 2007:191-192).

Teori uses and gratifications mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha untuk mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya (Nurudin, 2007:192).

Dari situ, kita dapat melihat bahwa sesungguhnya setiap audiens telah mempunyai potensi untuk menjadi melek media. Hanya saja, potensi ini harus dikembangkan secara benar dan berkelanjutan.

Kaum Terdidik Bertanggung Jawab terhadap Gerakan Literasi Media

Dengan pengetahuan yang dimilikinya, kaum terdidik memiliki kecenderungan untuk masuk ke dalam kelompok audiens aktif yang dipandang lebih dapat memilih media mana yang bisa memenuhi kebutuhannya. Ini menjadi modal yang baik bagi pengembangan literasi media di komunitas mereka.

Pendalaman pemahaman mengenai isi media, bahwa terdapat sisi positif dan negatif dalam setiap konten media, serta cara bersikap audiens ketika memahami hal tersebut, perlu dilakukan oleh setiap orang yang terdidik untuk kemudian disebarkan kepada masyarakat luas. Hal-hal tersebut merupakan fokus penting dalam pengupayaan kegiatan literasi media, mengingat literasi media ialah upaya untuk membawa pada kesadaran dan kemampuan pengendalian publik dalam menggunakan media (Sasangka, 2010:39).

Pemerintah melalui Kementerian Kominfo menaruh perhatian besar pada upaya literasi media demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagai bagian dari kaum terdidik, marilah kita ikut ambil bagian di dalamnya guna mewujudkan cita-cita luhur itu.

——————————————————–

Catatan kaki:

(1) Dikenal pula dengan istilah gerakan melek media.

(2) Menurut Michel de Certeau dalam Budiman (2002), konsumsi meliputi berbagai prosedur mengenai hal-hal yang diperbuat atau dilakukan oleh konsumen dengan produk tertentu, cara-cara memakai produk-produk. Selain melibatkan pemakaian produk-produk, konsumsi juga merupakan suatu tindakan, suatu proses yang dihidupkan melalui berbagai praktik.

(3) Isu yang mengemuka, sesuai dengan definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002), dapat dimaknai sebagai masalah yang dikedepankan atau yang sedang berkembang dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Jadi, isu tersebut dapat mencakup situasi politik, kondisi lingkungan atau sosial kemasyarakatan, dan sebagainya.

——————————————————–

Louis, aktivis literasi, pemerhati flora dan fauna, pencinta seni dan budaya, pendukung tagar #WarasBernegara, #SayaSPARTAN

____________

Daftar Pustaka

Baran, Stanley. 2004. Introduction to Mass Communication: Media Literacy and Culture, 3rd Edition. New York: McGraw-Hill

Biocca, Frank. 1998. Opposing Conceptions of the Audience : The Active and Passive Hemispheres of Communication Theory. New York: Free Press

Birowo, Mario Antonius. 2010. Pengalaman Ibu-ibu Babarsari Membaca Televisi dalam Sasangka (Ed). Ketika Ibu Rumah Tangga Membaca Televisi. Yogyakarta: Yayasan TIFA

Budiman, Kris. 2002. Di Depan Kotak Ajaib: Menonton Televisi Sebagai Praktik Konsumsi. Yogyakarta: Galang Press

McQuail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga

Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Tim. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka

Potter, James W. 2008. Media Literacy, 4th Edition. USA: Sage Production