Jokowi Membangun Politik Dinasti Atau Menyelamatkan Bangsa?

Gonjang-ganjing politik Indonesia semakin memanas. Pendukung Jokowi terpecah menjadi 2. Ada yang mengatakan tetap tegak lurus Jokowi dan menerima semua kejadian yang ada. Mereka menerima Kaesang menjadi Ketua Umum PSI dan menerima Gibran sebagai calon Wakil Presiden Prabowo. Mereka juga menerima keputusan MK sebagai sebuah keputusan hukum yang harus dihormati.

Di lain pihak, ada yang betul-betul menentang keputusan MK yang seakan-akan memudahkan Jokowi membangun politik dinasti. Mereka mulai menyindir bahkan mencerca Jokowi. Mereka dulunya adalah pendukung Jokowi dan percaya akan semua langkah catur Jokowi. Tetapi, saat ini, mereka menangkap bahwa langkah catur Jokowi itu hanyalah untuk melanggengkan kekuasaannya.

Setelah usulan 3 periode ditolak, lalu melakukan usaha dengan memasukkan anggota keluarganya masuk ke kancah politik nasional.

Muncul anggapan bahwa apa yang dilakukan oleh Jokowi saat ini adalah suatu bentuk ungkapan kekecewaannya selama menjadi kader PDIP. Banyak video dan foto yang beredar yang menunjukkan bagaimana seorang Jokowi yang adalah seorang Presiden diperlakukan tidak semestinya.

Tetapi, selama ini Jokowi selalu diam ketika orang mencercanya, mencacinya. Jadi, perlakuan yang dia terima selama menjadi kader PDIP itu tidaklah seberapa dibandingkan apa yang dia terima selama 2 periode menjabat sebagai Presiden.

Banyak orang dibutakan oleh tindakan Jokowi saat ini. Mereka tidak mampu berpikir jernih untuk melihat apa yang ada di balik tindakan Jokowi saat ini. Saya berusaha melihat dari sisi yang lain dari tindakan Jokowi saat ini.

Ada 2 hal penting yang menjadi konsern Jokowi saat ini. Yaitu intoleransi dan keberlanjutan pembangunan infrastruktur saat ini.

Intoleransi

Apabila berbicara tentang intoleransi, dari para capres yang akan berlaga saat ini, kita pasti tahu siapa yang akan menggunakan isu intoleransi ini. Jokowi tidak ingin isu ayat dan mayat turut ambil bagian dalam kontestasi politik pemilu yang akan datang.

Dia ingin, pemilu menjadi pesta demokrasi yang menyenangkan, di mana semua kontestannya akan adu visi, misi, dan program-program. Nantinya, pemenangnya bukan ditentukan oleh sentiment agama menggunakan ayat dan mayat, tetapi karena memang betul-betul program-programnya diterima oleh rakyat.

Saat ini, yang akan maju dalam pemilu tahun depan ada 3, Ganjar, Prabowo, dan Anies. Apabila hal ini terjadi, kejadian Pilkada DKI bisa terulang. Anies yang didukung oleh kaum intoleran akan kalah di putaran pertama. Di putaran kedua, suara pendukung Anies akan ke Prabowo. Hal ini tidak bisa dibiarkan.

Oleh karena itu, Prabowo harus didampingi oleh wakil yang betul-betul sudah teruji tegas dalam melawan intoleransi. Lalu ada pertanyaan, mengapa bukan Erick Thohir (ET) yang jadi cawapres? Di BUMN, banyak sekali kaum intoleran dan tidak ada bukti ketegasan ET melawan intoleransi di BUMN yang dia pimpin. Kita jarang mendengar ada pegawai BUMN yang dipecat karena mendukung intoleransi.

Lalu ada juga yang mengatakan, mengapa bukan Ridwan Kamil (RK). Apakah Jokowi percaya RK akan tegas melawan intoleransi? Selama ini kita tahu, di Jawa Barat sering terjadi praktek intoleransi dan tidak ada tindakan yang tegas dari RK.

Lalu siapa yang dipercaya Jokowi? Ya, siapa lagi? Salah satu pemimpin daerah yang tegas melawan intoleransi adalah Gibran (GR). Dia tegas melarang dan melawan intoleransi yang terjadi di wilayahnya. Bahkan selama dia menjadi walikota, Solo menjadi kota yang sangat toleran. Solo menjadi kota (mungkin satu-satunya) yang memasang pohon Natal di balaikota.

Untuk Ganjar Pranowo (GP), Jokowi percaya bahwa GP dan wakilnya, terutama didukung partainya PDIP, akan selalu melawan intoleransi. Karena itu, Prabowo harus diamankan, harus dijauhkan dari kaum intoleran karena sejak 2014 dia dekat dengan kaum intoleran itu. Dengan adanya GR di sisi Prabowo, Jokowi bisa merasa aman bahwa Prabowo tidak akan dekat dengan kaum intoleran.

Keberlanjutan Program Infrastruktur

Hal kedua yang dipikirkan Jokowi adalah keberlanjutan program infrastruktur di Indonesia. Dari ketiga pasangan itu, kita sudah tahu bahwa pasangan Amin tidak dapat dipercaya untuk melanjutkan program Jokowi. Karena berdasarkan rekam jejaknya, Anies tidak pernah melanjutkan program kerja Jokowi. Anies tidak bisa bekerja dengan baik.

Lalu bagaimana dengan Prabowo? Selama ini, Jokowi melihat kinerja Prabowo. Jokowi memberi kesempatan Prabowo untuk ikut mengatur negara dengan memberikannya posisi sebagai Menteri Pertahanan. Perlu diketahui, Menteri Pertahanan adalah salah satu posisi paling vital. Dia akan menggantikan kedudukan Presiden dan Wakil Presiden ketika keduanya tidak dapat melanjutkan kerjanya.

Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa Prabowo selama ini belum bisa menunjukkan kinerja yang maksimal yang sesuai dengan ekspektasi Jokowi. Ketika dia diberi pekerjaan untuk membangun proyek pangan di Kalimantan, dia kurang berhasil. Ketika diberi mandat untuk membeli pesawat canggih dan baru, dia membeli pesawat yang canggih tapi bekas alias sudah usang.

Karena itu, Jokowi ingin Prabowo didampingi oleh orang yang kuat, yang mampu melanjutkan kinerja dan karya Jokowi membangun bangsa. Dalam hal ini, ET bisa masuk menjadi cawapres Prabowo.

Yang dicari oleh Jokowi adalah paket komplit. Dia harus tegas terhadap kaum intoleran, dan dia juga harus melanjutkan karya Jokowi. Salah satu paket komplit ini adalah Gibran.

Dari sini, saya melihat bahwa Jokowi ingin bangsa Indonesia harus menjadi bangsa maju. Jangan sampai mandeg. Karena itu, momen pemilu harus menjadi momen untuk ajang pamer program, bukan ajang saling menjatuhkan apalagi ajang pamer ayat dan mayat.

Siapapun nanti yang menjadi pemenang, Jokowi tidak peduli. Entah itu Ganjar, ataupun Prabowo. Siapapun dari keduanya, Jokowi yakin Indonesia akan baik-baik saja.

Demi hal tersebut, Jokowi rela dicerca, rela dimaki. Bahkan dia merelakan anak-anaknya menjadi bahan cercaan dan perundungan. Bahkan seandainya nantinya Gibran tidak menjadi Wakil Presiden dan karir politiknya mandeg, Jokowi juga tidak peduli. Mengapa?

Karena Jokowi yakin, Ganjar akan melanjutkan pembangunan yang sudah dirintis oleh Jokowi dan dia juga akan melawan kaum intoleran.

Saat ini, saya menangis ketika menuliskan artikel ini. Bagaimana seorang Jokowi bahkan mengorbankan karir anaknya dan nama baiknya sendiri demi kebaikan bangsa. Saya menangis karena tidak banyak orang yang melihat Jokowi dari sisi ini. Bahkan oleh orang yang dulu mengatakan ‘berdarah-darah’ dalam mendukung Jokowi. Dan sekarang mereka ‘berdarah-darah’ menyindir Jokowi.

Saya masih meyakini, bahwa Jokowi masihlah Jokowi yang dulu, yang masih memainkan papan caturnya dengan langkah-langkah yang tidak dapat diprediksi oleh musuhnya. Bahkan tidak dapat diprediksi oleh para pendukungnya. Dia juga tidak peduli seandainya nantinya tidak ada lagi orang yang mempedulikannya. Yang dia pedulikan adalah keselamatan Indonesia, seperti yang dia doakan saat masuk di Ka’bah. “Selamatkan Indonesia. Tuhan tolong selamatkan Indonesia.”

 

Salam sehat Indonesia

 

Sumber foto:

https://kumparan.com/denny-charter1511315103071/permainan-catur-jokowi

 

Exit mobile version