Jokowi Membangun Politik Dinasti? Memang!

Anda pernah mendengar kata dinasti? Atau dinasti politik? Atau politik dinasti? Saya yakin, pasti Anda semua pernah mendengarnya. Bahkan saat inipun saya yakin, Anda mengetahui hal itu. Bahkan mungkin Anda setuju dengan hal itu.

Terus terang saja, situasi politik saat ini begitu hingar bingar. Banyak orang kebakaran jenggot. Tetapi kalau saya melihatnya, malah lucu. Orang-orang mengatakan Jokowi melakukan politik dinasti. Bahkan sampai menyindir, Republik rasa kerajaan. Anda ketawa atau tidak?

Saya merasa lucu karena ketika orang-orang meneriakkan kata politik dinasti atau republik rasa kerajaan mereka tidak paham dengan arti kata dinasti itu. Atau arti dari kata kerajaan.

Sebelum kita masuk ke pembahasan lebih lanjut, perlu saya sampaikan latar belakang mengapa kata dinasti politik dan republik rasa kerajaan ini muncul.

Kata-kata ini muncul karena pencalonan Gibran sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo. Gibran sendiri adalah anak sulung Jokowi, Presiden RI saat ini. Pencalonan Gibran menjadi mungkin karena UU nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu yang mengatur umur calon presiden dan wakil presiden digugat oleh beberapa orang. Gugatan tentang batasan umur ini dikabulkan oleh MK sehingga calon wakil presiden tidak harus berumur 40 tahun. Bisa berumur di bawah 40 tahun, asalkan pernah mengikuti dan memenangi pemilihan kepala daerah.

Kebetulan sekali, dalam hal ini, Ketua MK dijabat oleh Anwar Usman yang adalah adik ipar Jokowi. Dengan kata lain, Ketua MK adalah paman dari Gibran. Banyak orang mengatakan, pencalonan Gibran ini sah, karena terlepas dari siapa Ketua MK, produk UU-nya dianggap sah. Dari sinilah, isu dinasti politik menyeruak. Lalu memunculkan kata-kata ‘republik rasa kerajaan.’

Baik, kita kembali ke diskusi kita.

Dinasti

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online, saya menemukan kata dinasti sebagai ‘keturunan raja-raja yang memerintah, semuanya berasal dari satu keluarga.’

Dari situs lain, saya menemukan arti kata politik dinasti dapat diartikan sebagai sebuah kekuasaan politik yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih terkait dalam hubungan keluarga.

Dengan kata lain, semua yang terlibat dalam pemerintahan adalah orang-orang yang berasal dari satu keluarga. Lalu, mari kita melihat keluarga Jokowi.

Kepala negara adalah Jokowi. Ketua MK adalah ipar Jokowi yang masih satu keluarga. Ketua DPR adalah mbak Puan Maharani, teman satu partai Jokowi. Ketua MPR sekarang adalah Bambang Soesatyo, kenalan Jokowi. Para menteri kabinet sekarang adalah orang-orangnya Jokowi.

Sementara itu, para kepala daerah juga masih ada hubungan keluarga dengan Jokowi. Atau, paling tidak, masih ada hubungan sedikit dengan Jokowi. Walikota Solo adalah Gibran, anaknya Jokowi. Walikota Medan, menantunya Jokowi. Gubernur Jawa Timur, kenalannya Jokowi. Mereka juga dipilih oleh rakyat di masing-masing daerah. Dan rakyat itu adalah rakyatnya Jokowi. Jadi, semuanya ada hubungannya dengan Jokowi. Di sini, ada politik dinasti.

Kerajaan

Sebuah kerajaan dipimpin oleh seorang raja. Penerusnya, atau pemimpin selanjutnya, dipilih berdasarkan keturunan. Artinya, yang menjadi raja adalah keturunan raja sekarang. Bisa juga raja yang sekarang memilih dan menunjuk penggantinya. Tidak ada istilah raja dipilih dari luar lingkungan keluarga kerajaan. Meskipun tidak kompeten, tetap harus dipilih dari keluarga kerajaan.

Lalu sekarang, ada istilah republik rasa kerajaan. Berarti negaranya berbentuk republik tetapi sistemnya seperti kerajaan. Dan Jokowilah yang membuat republik ini serasa kerajaan.

Dengan demikian, penggantinya Jokowi berarti ditunjuk oleh Jokowi. Dan penerusnya adalah keluarganya Jokowi. Betulkah? Mari kita lihat.

Calon presiden sekarang ada 3, Ganjar, Prabowo, dan Anies. Ketiga-tiganya adalah orang dekat Jokowi. Sering terlibat dalam kegiatan bersama. Jadi, mereka masih dianggap sebagai keluarga Jokowi. Lalu cawapresnya ada Mahfud, Gibran, dan Cak Imin. Hanya Gibran yang anaknya Jokowi. Yang lain adalah orang-orang di lingkarang Jokowi. Ada yang jadi menteri, ada yang jadi kenalannya Jokowi. Dan kenalan kalau sudah dekat sering dianggap sebagai keluarga. Jadi, calon penerusnya Jokowi adalah keluarganya Jokowi.

Dan nanti, pada pemilu, yang memilih adalah Jokowi lewat rakyat Indonesia yang datang ke tempat pemungutan suara. Jadi, kesimpulannya, Jokowi memang mendirikan politik dinasti dan membuat negara republik menjadi seperti kerajaan.

Tetapi, kalau Anda setuju dengan pendapat saya di atas, berarti Anda perlu sekolah lagi dari Sekolah Dasar untuk membuat Anda bisa berpikir secara rasional.

 

Salam sehat Indonesia

 

Sumber foto:

https://nasional.kompas.com/read/2023/10/24/10491151/ditanya-soal-dinasti-politik-jokowi-yang-memilih-itu-rakyat

 

Exit mobile version