Kenaikan Tarif Obyek Wisata Candi Borobudur, Seberapa Penting Untuk Direalisasikan?

Seberapa penting naiknya tarif obyek wisata borobudur?
Seberapa penting naiknya tarif obyek wisata candi borobudur?

“Berwisata ke Candi Borobudur adalah juga perjalanan refleksi anak anak bangsa untuk mengenali jatidiri bangsa. Dengan semakin mengenali jati diri bangsanya, masyarakat akan menanamkan rasa cinta pada tanah airnya.”_Rio Irawan

Sejak beredarnya pemberitaan terkait ini, saya tidak tertarik untuk menelusuri lebih jauh motif yang melatarbelakangi, apalagi untuk memahami secara utuh informasi kenaikan tarif itu dengan catatannya untuk berlalu dalam artian yang bagaimana.

Saya hanya ingin memposisikan diri, sebagai kaum awam yang hanya menerima sedikit informasi lalu mencoba memahaminya secara sempit dan praktis.

Dalam sudut pandang tertentu, saya tidak mempersoalkan berapapun harga tiket masuk untuk kunjungan wisata ke Candi Borobudur. Karena terlepas dari fungsinya sebagai sarana ibadah umat Buddha dan obyek wisata kepurbakalaan. Candi Borobudur adalah heritage cagar budaya kelas dunia.

Dengan label itu, harus diakui Candi Borobudur membutuhkan biaya operasional tinggi untuk perawatannya, termasuk apabila harus dilakukan pemugaran ulang untuk peremajaan kualitas fisik arkeologis.

Kemudian dalam sudut pandang yang lain, saya meyakini kenaikan tarif ini pasti akan menuai pro dan kontra dan walaupun kita sendiri tidak bisa mengubah apa yang telah menjadi regulasi negara, namun dengan suara opini bisa sedikit memberikan masukan bagi otoritas terkait.

MASYARAKAT PERLU TAHU ALASAN KENAIKAN TARIF MASUK CANDI BOROBUDUR

Rasanya memang kurang pas apabila kenaikan tarif mencapai angka nominal yang fantastis sebesar itu. Walau, mungkin bisa saja ada banyak orang yang tetap mampu membayarnya, apalagi bagi mereka yang memang niat untuk berwisata.

Tapi yang kemudian mungkin akan menjadi pertanyaan adalah dengan membayar tarif sebesar itu, wisatawan akan mendapatkan imbal balik apa saja ?

Saat orang berani membayar ,tidak mungkin hanya sekedar memaklumi alasan terkait alokasi uang itu nantinya akan digunakan untuk perawatan dan lain hal. Karena ketika orang sudah memutuskan untuk melakukan kunjungan wisata, orang hanya akan merasa bahwa dia sedang berada di suatu area industri bisnis kepariwisataan.

Maka yang kemudian menjadi ukuran adalah apa yang akan menjadi timbal balik yang bisa didapatkan ? Dan ini akan berlaku di semua area kepariwisataan yang bertarif tinggi. Ini menjadi semacam fenomena pertukaran sosial dalam kaitannya dengan perspektif Candi Borobudur sebagai obyek wisata. Hal ini menjadi faktor penting untuk diperhatikan oleh pihak pengelola.

Wisatawan harus juga diberikan informasi, uang tarif tersebut apakah semuanya masuk kas negara, atau juga dialihkan untuk membantu pembinaan agenda keagamaan umat Buddha, atau juga mungkin dialokasikan juga untuk pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan Candi Borobudur ?

Karena di sekitar Candi Borobudur pun mulai banyak kemunculan desa desa wisata untuk melengkapi dinamika kepariwisataan Candi Borobudur. Dan tentu saja desa desa wisata tersebut mengharapkan juga dana dana untuk pemberdayaan. Walau mungkin digalakkan dengan sistem kemandirian/swadaya.

CANDI BOROBUDUR MILIK SIAPA ?

Sosialiasi jangan hanya tentang kenaikan tarif saja, tetapi sosialisasikan juga kepada masyarakat terkait hak kepemilikan, hak kelola, dan hak hak terkait lainnya, bahwa Candi Borobudur ini milik siapa ?

Borobudur sebetulnya untuk siapa?
Borobudur sebetulnya untuk siapa?

Apakah memang milik negara seutuhnya atau milik Lembaga Keagamaan Buddha, atau milik siapa ? Informasi ini menjadi penting untuk diketahui oleh khalayak luas, supaya meminimalisir adanya anggapan dan dugaan yang bisa melebar kemana mana.

CANDI BOROBUDUR SEBAGAI TEMPAT IBADAH AGAMA BUDDHA

Candi Borobudur selain sebagai obyek wisata, fungsi lainnya adalah sebagai sarana ibadah keagamaan umat Buddha.
Menjadi penting bagi otoritas negara maupun pihak pengelola kepariwisataan Candi Borobudur untuk memberikan pengecualian untuk kepentingan yang sifatnya kegiatan ibadah keagamaan.

Dalam hal ini adalah umat Buddha itu sendiri yang memang berkepentingan dalam tradisi peribadatan di Candi Borobudur.

Harus ada pemetaan yang jelas, dan tidak mungkin memaksakan untuk memberlakukan dengan standar yang sama. Mungkin secara awam, akan dipahami bahwa Pemuka dan Pemeluk agama Buddha hanya menggunakan Candi Borobudur ketika momentum Hari Raya Keagamaan saja, misal Tri Suci Waisak.

Sementara untuk keseharian, peribadatan umat Buddha sebatas ada di Wihara masing masing. Tapi ini penting untuk dibicarakan ulang, bermusyawarah duduk bersama antara pemerintah, pihak pengelola dan perwakilan dari kelembagaan yang menaungi agama Buddha, WALUBI misalnya.

Karena bisa jadi ada tradisi persembahyangan yang harus dilakukan setiap hari di kawasan Candi Borobudur, terutama untuk kalangan pemuka dan rohaniwan Buddha. Dan semua pihak harus menghormati itu secara prioritas.

MENCINTAI TANAH AIR INDONESIA DARI CANDI BOROBUDUR

Kemudian kaitannya dengan agenda kebangsaan untuk menanamkan semangat cinta tanah air, pelestarian cagar budaya dan kajian studi kesejarahan.

Mungkin bagi kalangan peneliti,maupun para pekerja bidang arkeologi kepurbakalaan, kenaikan tarif tidak menjadi persoalan karena pasti anggaranya terakomodir.

Tapi bagaimana dengan masyarakat umum lainnya di luar golongan pelajar, hanya sebatas pelaku wisata domestik saja. Di mana mereka hanya untuk perjalanannya saja, supaya sampai ke kawasan Candi Borobudur saja sudah harus merogoh kocek.

Borobudur, antara peribadatan dan kepariwisataan
Borobudur, antara peribadatan dan kepariwisataan

Apalagi mereka yang harus membawa banyak anggota keluarganya. Apakah tidak malah memberatkan dan akhirnya membuat orang malah membatalkan agenda wisata ke Candi Borobudur ?

Padahal dengan kunjungan wisata ke Candi Borobudur, secara eksplisit masyarakat juga akan mempelajari tentang warisan tanah airnya dan sejarah panjang peradaban luhur nenek moyang bangsanya.

Berwisata ke Candi Borobudur adalah juga perjalanan refleksi anak anak bangsa untuk mengenali jatidiri bangsa. Dengan semakin mengenali jati diri bangsanya, masyarakat akan menanamkan rasa cinta pada tanah airnya.

Tapi apakah tidak terlalu berlebihan, hanya demi menanamkan rasa cinta pada tanah airnya, masyarakat harus merogoh kocek terlalu dalam ?

Candi Borobudur tidak hanya tentang aset bisnis pariwisata untuk pemasukan devisa negara.

Candi Borobudur juga tidak sekedar sarana ibadah keagamaan. Lebih luas lagi, Candi Borobudur adalah simbol kebesaran suatu peradaban luhur dan rumah kebhinekaan bagi semua golongan.

Marilah semua pihak untuk saling memahami, dan menganalisa dari semua sudut pandang yang ada. Asalkan semua ini adalah demi membawa kebaikan bagi eksistensi Candi Borobudur serta pengembangan kawasan desa wisata di sekitarnya.

Kita perlu mendukung langkah langkah pemerintah untuk merealisasikannya. Tapi sebelum itu direalisasikan, ada baiknya dilakukan kajian kajian terukur dan menyeluruh dari berbagai sudut pandang. Terlebih agar semangat mencintai tanah air melalui kunjungan wisata cagar budaya kepurbakalaan bisa tetap ditumbuhkan dan berkemajuan. Semoga.

*Rio Irawan, Pegiat Literasi

Referensi :
https://nasional.kompas.com/read/2022/06/06/15251401/tolak-kenaikan-harga-tiket-pimpinan-komisi-x-masih-banyak-opsi-untuk

https://m.liputan6.com/bisnis/read/4979132/menko-luhut-tiket-masuk-candi-borobudur-rp-750-ribu-belum-final-diputuskan-minggu-depan

https://ekbis.sindonews.com/read/789767/34/sebut-kenaikan-tiket-masuk-borobudur-tak-masuk-akal-pengamat-rp750000-dapat-layanan-apa-1654491990

https://travel.tempo.co/read/1598744/pemerintah-akan-kaji-lagi-rencana-kenaikan-harga-tiket-naik-candi-borobudur