Kominfo Dorong Pro-Gamers Jadi Profesi Baru

judi online sulit diberantas

Wow…. mungkin tidak terbayangkan sebelumnya, tetapi di era industri 4.0 banyak profesi baru yang tumbuh tanpa harus ditempuh melalui jalur pendidikan resmi.  Jika dulu hobi, kini bisa menjadi pekerjaan tetap.  Lihat saja, selain youtuber, tiktokers, gamer adalah profesi masa depan yang sangat menjanjikan!  Peluang inilah yang dilihat dan menjadi komitmen Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang akan terus mendukung perkembangan ekosistem industri game di Indonesia.

Maka beberapa waktu lalu di Bali, 15 -16 Oktober 2022 Kominfo mengadakan perhelatan yang merupakan kolaborasi dengan Indonesia Game Developer Exchange (IGDX).  Kegiatan ini berupa roadshow di perguruan tinggi dengan tujuan membuka lapangan kerja dan menghadirkan talenta digital.  Sehingga menjadi matchmaking dengan industri game tanah air.  Sekaligus membuka potensi investasi dan kerja sama bisnis bagi pengembang game lokal dengan berbagai mitra bisnis lainnya, yakni publisher, service buyer, venture capital, dan distribution channel.

Iya sih, dulu memang game hanyalah kegiatan yang menghabiskan waktu.  Seseorang orang hanya duduk hingga belasan jam di depan layar komputer atau laptop.  Tetapi zaman berubah, karena game yang ditekuni dengan serius justru menghasilkan cuan alias bisa menjadi profesi!

Sebagai gambaran saja inilah beberapa profesi yang cocok untuk para gamers:

Penguji game
Percayalah tidak semudah yang dipikirkan.  Sebab seorang penguji game dituntut berpikir kritis.  Artinya, seorang penguji tidak sekedar diminta bermain game, melainkan ditugaskan mencari kelebihan dan kelemahan game yang dimainkan mulai dari bug hingga glitch-nya.
Pemain Profesional
Sebagai pemain profesional dituntut memiliki kemampuan yang mumpuni.  Nantinya harus siap untuk mengikuti ajang tournament e-sport dan berhadapan dengan pemain profesional lainnya.
Game Developer
Seorang game developer dituntut kreatif, karena di dunia game tidak hanya  1 atau 2 orang saja yang jago membuat game.  Artinya persaingannya cukup tinggi.
Streamer
Istilah ini untuk orang yang dibayar untuk ditonton selama bermain game.  Seorang streamer akan main games popular ataupun keluaran terbaru, kemudian permainan ini akan direkam.  Terlihatnya mudah, tetapi seorang streamer harus pintar mengemas konten menjadi asyik.  Konon, jika sudah lihai, penghasilan streamer bahkan bisa miliar rupiah per bulan.

Sadar Indonesia memiliki potensi yang besar Kominfo gerak cepat!  Bayangkan, kini jumlah pemain game di Indonesia tercatat lebih dari 170 juta orang di berbagai platform berdasarkan Peta Ekosistem Industri Game Indonesia 2021.   Tidak lagi seperti zaman jadul, kini tercatat 84 persen ponsel pintar menjadi gadget terpopuler untuk bermain game.  Disusul 43 persen yang menggunakan komputer desktop, 20 persen melalui notebook atau laptop, dan 9,5 persen memakai konsol.

Lalu jika bicara pendapatan dari game di Indonesia mencapai USD1,1 miliar (Rp16,72 triliun/kurs USD1 = Rp15.200).  Kebayang dong, ini bukan angka kaleng-kaleng.  Ini angka potensi yang amat besar untuk dikembangkan di masa depan.

Mirisnya, pangsa pasar game masih didominasi oleh game buatan luar negeri.  Menurut data, di 2020 pangsa pasar game di Indonesia 99,5 persen masih dikuasai produk-produk asal luar negeri atau setara lebih dari USD1,7 miliar (sekitar Rp26,3 triliun).  Padahal Indonesia merupakan konsumen data internet terbesar ke enam di dunia setelah China, Amerika Serikat, India, Brazil, dan Jepang.  Bahkan Indonesia tercatat menempati urutan ke dua setelah Filipina yang mengunakan internet untuk game!

Data ini termuat dalam laporan “Digital 2022 April Global Statshot Report.”  Bahwa di Indonesia 95,4 persen adalah pengguna internet untuk bermain game di berbagai macam perangkat, mulai dari PC, konsol, VR, hingga platform media streaming!  Namun sayangnya atlet e-sport Indonesia barulah 52 juta orang per data 2021.

Sementara Indonesia dinilai sebagai negara yang menyediakan pangsa pasar industri game terbesar di Asia Tenggara, bahkan menduduki peringkat ke-16 untuk tingkat global.  Melihat kondisi ini harusnya kita tidak menjadikan era digital percuma.  Apalagi, beberapa perusahaan game asal Indonesia sudah mendunia.  Kita sebut saja beberapa, Agate Studio, Touchten Games, Megaxus, Gemscool.  Ini artinya Indonesia memiliki potensi, dan harusnya dikembangkan maksimal dengan lebih terkoordinir.

Berkolaborasi dengan IGDX, Kominfo berharap akan semakin banyak game developer lokal yang naik kelas.  Selanjutnya, komitmen ini pun diperjelas oleh Menkominfo Johnny Plate, bahwa pelaku industri game dalam negeri harus dapat menguasai pangsa pasar yang lebih besar di negeri sendiri.  Mampu menciptakan produk-produk game yang bisa bersaing dengan game developer global, dan membuka mata dunia bahwa Indonesia bukan sekadar pasar tetapi juga pemain penting dalam tatanan industri game dalam negeri maupun luar negeri.  Oke deh, yuks…gunakan ruang digital untuk produktif!   Yuks…ciptakan lapangan kerja baru dari hobby jadi profesi!

Menjadi pro-gamers, siapa takut!