Kominfo Ikut “Disikat”, Permintaan SPARTAN Ditunaikan Jokowi

Kominfo Ikut "Disikat", Permintaan SPARTAN Ditunaikan Jokowi
Cuplikan layar tempat artikel pembelaan untuk surat terbuka Spartan Nusantara untuk pemerintah April lalu.

Rasa haru dan bangga menyeruak seketika saat media-media dunia ramai-ramai menyoroti kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Russia. Tidak saja bangga karena beliau adalah presiden kita senegeri, tapi terutama karena yang beliau lakukan adalah apa yang SPARTAN minta pada April lalu. Permintaan yang dituangkan dalam bentuk surat terbuka tersebut diterbitkan di Seword.com oleh kami sendiri.

Kami kutip utuh dari tempatnya terbit surat terbuka tersebut berikut ini:

“Surat Terbuka SPARTAN NUSANTARA untuk Ibu Menteri Retno Marsudi

Yth Ibu Menteri Luar Negeri RI

di

Jakarta

Assalamualaikum…wr. wbt., Salam sejahtera untuk Ibu Menteri.

Besar harapan kami, semoga kami menjumpai Ibu dalam keadaan sehat walafiat dan senantiasa dalam lindungan Allah, Swt. Kiranya bulan suci Ramadhan yang sedang dijelang juga membawa taufik dan hidayah bagi Ibu sekeluarga dan kita senegeri. Amin.

Ibu Menteri yang terhormat, kami dari komunitas Suara Profesional dan Relawan Tangguh untuk Negeri (SPARTAN) Nusantara merasa bahwa Indonesia belum melakukan langkah-langkah strategis selaku penyelenggara KTT G20 tahun ini. Secara infrastruktur pendukung mungkin saja sudah memadai. Namun, berhubung poin kepentingannya adalah berhasil menghadirkan semua perwakilan dari negara-negara peserta G20, kami merasa persiapan infrastuktur tidak punya arti apa-apa.

Kondisi geopolitik global saat ini sedang alami krisis akibat pecahnya perang di Ukraina. Imbas perang ini merasuk hingga ke kesuksesan penyelenggaraan KTT G20 nanti. Kenapa?

Sebab, dilansir dari berbagai media antara lain Vladimir Putin Bakal Hadir di Bali, Negara Barat Ancam Boikot KTT G20? dan PM Australia Serukan Boikot KTT G-20 di Indonesia Jika Putin Hadir, ini jelas jadi ketegangan baru yang mau tidak mau menyeret Indonesia di dalamnya.

Kita tentu ingin jadi tuan rumah yang ramah pada semua tamu. Jika kita melarang Putin hadir, itu mudah dinilai kalau kita pro NATO. Jika kita biarkan Putin hadir juga kita akan dinilai kalau kita pro Rusia. Netralnya di mana? Politik bebas aktifnya kita bukan jargon kosong, bukan?

Memang memusingkan. Tapi inilah realita yang mesti kita hadapi sekarang ini.

Kita perlu semacam legacy bahwa negara kita nonblok dan punya komitmen politik luar negeri yang bebas dan aktif. yang di sisi lain oleh Konstitusi Dasar Negara RI diamanatkan untuk ” ….ikut melaksanakan ketertiban dunia“.

Maka, bila di saat yang sama kita diposisikan sebagai tuan rumah Konferensi KTT G20, kita mau tak mau dipaksa untuk berhasil “memaksa” baik Rusia pun NATO untuk tetap berbagi ruangan bersama di konferensi dinaksud lepas dari bayang-bayang perang di Ukraina.

Di sini kami merasa peran Ibu Retno selaku Menteri Luar Negeri kita belum menunjukkan perhatian akan dampak dari perang Rusia vs Ukraina. Ibu dan jajaran di Kementerian Luar Negeri belum melakukan langkah-langkah diplomasi guna memaksa kedua negara berunding untuk damai difasilitasi Indonesia. Sama sekali kami tak menemukan perwujudan dari politik bebas dan aktif dan ikut melaksnakan ketertiban dunia dalam krisis geopolitik global di Ukraina sana.

Padahal menurut kami, itu sangat perlu dilakukan agar ketika Indonesia menjadi tuan rumah di KTT G20 nanti, baik negara-negara yang pro Ukraina (NATO) pun Rusia di sisi lain bisa melihat komitmen kita untuk berlaku netral.

Sepanjang langkah ajak berunding Rusia vs Ukraina belum dilakukan, Indonesia bakal dinilai pro lawan oleh masing-masing blok. Ujung-ujungnya, KTT G20 terancam gagal terlaksana.

Kami, para SPARTAN seindonesia tak rela hajatan sebesar itu yang mana Ketua Presidensinya juga merupakan Presiden kita, Ir. H. Joko Widodo, gagal mencapai tujuannya. Apalagi kalau sampai batal terselenggarakan.

Mestinya Indonesia bisa ambil inisiatif perdamaian antara Rusia dan Ukraina demi kepentingan KTT G20 dimaksud. Prinsipnya, harus melihat perang Rusia vs Ukraina ini bukan sebagai reason namun sebagai impact dari pertarungan geopolitik dan geostrategi sebelumnya. Jadi cara pandang Rusia juga harus masuk dalam proposal perdamaian, tidak dari Ukraina saja.

Karena itu, kami amat berharap, di sisa-sisa waktu yang tinggal beberapa bulan saja ini, Kementerian Luar Negeri RI segera mengupayakan:

1). Tawarkan diri sebagai fasilitator perundingan damai antara Rusia dan Ukraina

2). Meyakinkan lewat diplomasi ke semua negara peserta G20 bahwa negara kita adalah negara netral di hadapan krisis di Ukraina, ditunjukkan lewat langkah yang diambil pada langkah no 1 di atas.

3). Sembari Kemenlu melakukan 2 langkah di atas, mohon beri ruang pula pada kami para SPARTAN di seluruh pelosok tanah air untuk ramai-ramai memainkan kata kunci ini di internet Indonesia Damaikan Rusia dan Ukraina, sebagai bentuk kepedulian kami mengamplifikasi langkah negara.

Demikian surat terbuka ini kami buat untuk diindahkan seperlunya.

Hormat kami

Ttd

Irwan Wijatmiko (Ketua Harian SPARTAN NUSANTARA)

Mengetahui

Ttd

Indra Bhakti (Ketua Umum SPARTAN NUSANTARA)

Tembusan: Kpd yth. Bpk Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo.”

Catatan: Apabila pembaca hendak membaca surat tersebut pada alamat aslinya, silakan klik link berikut

Surat Terbuka SPARTAN ke Pemerintah Menuai Pro Kontra

Namun rupanya surat tersebut justru memicu pro dan kontra sebagaimana bisa disimak pada kolom komentar pada tempat artikel itu dimuat. Pro dan kontra juga terjadi di laman-laman dan grup-grup facebook tempat tulisan itu dishare.

Golongan kontra umumnya menganggap bahwa apa yang dilakukan SPARTAN tersebut lebay. Mereka rata-rata menilai SPARTAN tidak dalam kapasitasnya untuk mendikte pemerintah. Tak sedikit pula yang kemudian jadi kepo, ingin tahu SPARTAN itu apa. (Jika masih ada yang mau kepo pas membaca artikel ini, silakan klik link TENTANG di akhir halaman ini saat anda sekalian scrol atau bisa pula dengan klik “Kami Adalah SPARTAN Nusantara” pada halaman web ini).

Sementara mereka yang pro umumnya mendukung, alasannya karena yang dilakukan oleh SPARTAN itu sifatnya usulan, bukan mendikte pemerintah. Menurut mereka, pemerintah berkenan menunaikan usulan tersebut ya syukur, jika tidak pun tak masalah. Yang terpenting SPARTAN sebagai bagian dari rakyat Indonesia sudah menunjukkan kepeduliannya akan nasib Indonesia di mata dunia sebagaimana menjadi alasan utama surat itu dibuat SPARTAN.

Kominfo Disentil pada Artikel Pembelaan SPARTAN

Merasa bahwa kamilah yang menerbitkan surat terbuka itu kemarin mewakili komunitas SPARTAN Nusantara seluruhnya, kami pun lantas terbitkan artikel baru. Isinya adalah pembelaan kami guna meluruskan segala duga dan syak wasangka yang timbul dari terbitnya Surat Terbuka.

Pembelaan itu kami kembali tayangkan di Seword. Alasannya selain karena surat terbuka tersebut telah diterbitkan di sana sebelumnya, juga karena website spartannusantara.id, tempat Anda membaca tulisan ini sekarang, belum lahir.

Berikut ini kami kutip utuh sebagian dari isi pembelaan kami itu:

“……
Sahabat pembaca yang hendak mengecilkan arti dari mulianya tujuan dilayangkannya surat terbuka tersebut oleh SPARTAN NUSANTARA entah pura-pura tidak tahu atau memang benar-benar tidak tahu bahwa ekonomi itu bertalian erat dengan politik. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang.

Perang di Ukraina itu bukan melulu soal politik, di sana motif ekonominya juga ada. Lebih dari itu, bahkan perang di Ukraina ini sampai meracuni sportifitas dunia sepakbola.

Dunia sepakbola saja terpengaruh, apalagi forum dari sebuah kerjasama ekonomi. Padahal, ekonomi dan politik kita tahu sebagai 2 sisi mata uang. Buat amankan agenda ekonomi, butuh kebijakan politik. Sebaliknya demi stabilitas politik, dukungan kebijakan ekonomi itu wajib.

……

Kita tak usah berlagak bego bahwa seolah ekonomi tak punya kaitannya sama politik, demikian sebaliknya. Lebih-lebih telah ada krisis politik di antara anggota forum yang sepakat hendak bekerja sama secara ekonom di situi.

Di titik seperti sekarang inilah pentingnya publik memahami kajian geopolitk, geostrategi, geoeknomi global sehingga bisa menilai dengan baik apakah kita sebagai negara sedang ada di jalurnya yang aman atau tidak di hadapan agenda kepentingan penguasa global.

Surat Terbuka SPARTAN NUSANTARA kemarin harusnya dilihat sebagai wujud dari kekuatiran publik sipil akan gagalnya KTT G20 terselenggara. Kita memang berlaku wajar saja dengan sebar undangan kepada 20 negara peserta. Datang atau tidak, itu terserah yang diundang.

Masalahnya, KTT G20 tahun ini digelar di tengah krisis perang di Ukraina. Salah satu kubu tak hadir (di sini Ukraina diwakili oleh negara-negara anggota NATO), maka akan mudah digoreng sebagai pro kubu yang lain. Putin hadir buat hargai undangan kita, tapi anggota NATO jadinya mogok tak mau datang, kita akan mudah dituduh sebagai berkubu ke Russia.

Sisi lain, jika kita mengiyakan tuntutan negara-negara anggota NATO dengan melarang Putin hadir, kita juga akan dinilai pro NATO.

Padahal jelas-jelas konstitusi dasar negara kita mengamanatkan bahwa kita menganut politik luar negeri yang bebas dan aktif, serta ikut menjaga ketertiban dunia.

Apakah amanat itu masih terwujud apabila sebagai tuan rumah KTT G20 tahun ini, kita tak mampu hadirkan semua negara peserta?

Maka dari itulah, SURAT TERBUKA itu dibuat oleh SPARTAN NUSANTARA untuk Ibu Menlu Retno Marsudi. Ini tak berarti SPARTAN NUSANTARA sok tahu, sok cakap, sok pinter.

…….

Kenapa tak berkenan melihat surat terbuka seperti itu sebagai masukan yang baik untuk para pengambil kebijakan demi kebaikan bersama?

Toh, asalkan ada upaya mau damaikan Russia dan Ukraina, itu sudah cukup untuk menutup celah bagi mereka yang coba-coba hendak mengobok-obok kedaulatan politik luar negeri kita yang bebas dan aktif tadi.

Salah satu kubu tetap tak jadi datang nanti di KTT G20, ya itu masalah dia namun setidaknya kita sudah tunjukkan netralitas kita di hadapan krisis di Ukraina sana dengan coba menawarkan diri sebagai fasilitator perdamaian kedua negara yang lagi bertikai sebelum KTT dilangsungkan. Pemerintah juga di dalam negeri akan dinilai taat konstitusi apabila melaksanakannya.

Langkah yang disarankan SPARTAN NUSANTARA itulah legacy kita. Masa saran begini dianggap sok hebat? Piknikmu kurang jauh, Somad eh, Sobat.” → Silakan menuju link ini jika ingin baca langsung pada sumbernya: Kominfo Jangan Jadi Bumper, KTT G20 (Ekonomi) Bisa Gagal Karena Geopolitik

Dalam artikel pembelaan itu, kami juga ikut menyentil ke Kominfo supaya tak coba-coba berupaya lips service saja dalam mengupayakan sukses tetap digelarnya KTT G20 di Indonesia di hadapan ancam-mengancam antar kubu yang bermain di balik konflik Ukraina vs Russia.

Ternyata Presiden Jokowi Mewujudkannya

Setelah terbitnya artikel pembelaan itu, kami anggap case selesai. Perang Ukraina vs Russia masih terus berlanjut hingga kini sedang kami sudah mulai lupa akan surat terbuka itu kemarin.

Sampai kemudian….

Seperti yang kami singging di paragraf awal tulisan ini, tiba-tiba saja kami tersentak, media-media dunia tak cuma tanah air pada ramai menyoroti apa yang dilakukan Presiden Jokowi seusai gelaran KTT G7 Jerman kemarin. Jokowi dilaporkan sengaja berkunjung ke Ukraina dan Russia secara bergiliran sebelum kembali ke tanah air.

Jika ada yang menilai bahwa kunjungan ini tak lebih dari kunjungan bilateral biasa, Jokowi sendiri telah merilis pernyataan bahwa dia datang untuk tawarkan diri menjembatani dialog perdamaian antar kedua negara yang sampai kini masih bertikai itu.

Tanpa keluar pernyataan langsung dari mulut presiden sekalipun, dinalar saja harusnyacukup untuk menyimpulkan bahwa kunjungan Jokowi ke kedua negara tersebut adalah misi perdamaian. Kedua negara sedang bertikai, jika Jokowi cuma kunjungan bilateral biasa, tak mungkin dia pertaruhkan nyawa, masuk ke area berisiko saat perang masih berkecamuk.  Toh, negara lain yang tidak sedang perang di Eropa sana itu banyak, namun mengapa mesti ke Ukraina dan Russia yang lagi berperang?

Kesimpulannya harusnya adalah karena misi ke sana untuk tawarkan diri menjadi juru damai kedua belah pihak. Itu!

Dan atas dasar kesimpulan itu, maka tak ada yang perlu heran apabila Komunitas SPARTAN Nusantara jadi merasa haru dan bangga. Haru karena tak menyangka aspirasi mereka kemarin diwujudkan oleh Jokowi. Jika Jokowi melakukan kunjungan kemarin ke Ukraina dan Rusia karena telah membaca surat terbuka tersebut, tentu membanggakan. Tapi, jika tidak karena membaca surat itu, asal Jokowi melakukan apa yang menjadi harapan SPARTAN, ini saja sudah cukup untuk bangga. Ya, bangga karena kepedulian SPARTAN untuk bangsa rupanya nyambung sama kepedulian pemimpin negeri.

Ormas ini layak untuk besar karena memang diniatkan oleh kami untuk jadi ormas yang khusus memberi literasi kebangsaan secara waras. Tengok saja semboyannya, “Waras Bernegara”! Begitulah kami para SPARTAN ingin berbakti untuk negeri.

Terima kasih pokoknya untuk Bapak Presiden Jokowi karena harapan kami rupanya nyambung dengan kepedulian Bapak selaku pemimpin. Memang ya, kepedulian adalah salah satu syarat utama dalam seni memimpin. Namun tak semua pemimpin memiliki ini. Jokowi adalah satu di antara sedikit yang memilikinya. Salut, Bapak….!