Opini  

Mati Lampu? Masih Mending Daripada….

Kita pasti masih ingat awal tahun ini, ketika listrik di banyak kota mengalami pemadaman. Hal ini disebabkan karena PLN mengalami krisis stok batubara. Memang, batubara masih menjadi bahan bakar utama di sebagian besar pembangkit listrik PLN.

Saat itu, banyak orang membela PLN dengan membandingkan dengan daerah yang sudah sekian lama tidak mendapatkan penerangan listrik. Bahkan menganggap kurang bersyukur. ‘Baru listrik mati 8 jam. Bandingkan dengan daerah *** yang sudah puluhan tahun tidak dialiri listrik.’

Saya tertawa. Bukan karena saya tidak empati dengan daerah yang tidak mendapatkan penerangan listrik. Bukan itu. Saya tertawa karena perbandingan yang dibuat. Membandingkan mati listrik yang hanya 8 jam dengan yang belum pernah mendapatkan penerangan listrik tidaklah tepat.

Saya pernah mengalami hal itu. Desa saya baru mendapatkan aliran listrik tahun 1980an. Padahal daerah saya itu di Jogja. Di daerah Godean, sangat dekat dengan rumah Presiden saat itu, Kemusuk, Sedayu. Tetapi jaringan listrik baru masuk tahun 1981.

Sebelum jaringan listrik masuk ke desa saya, kami terbiasa hidup dalam kegelapan saat malam hari. Memang ada yang memiliki genset, dan menyalurkannya ke rumah-rumah. Tetapi itupun harus membayar. Dan tidak semuanya mendapatkan aliran listrik dari genset.

Setiap malam, kami harus belajar dengan diterangi lampu teplok yang kalau terkena angin apinya meliuk-liuk. Selama tidur, kami diterangi lampu itu. Dan pagi harinya, lubang hidung selalu berwarna hitam karena jelaga dari lampu teplok itu.

Kadang juga memakai lampu petromaks, atau lampu pompa. Tetapi itupun kalau ada pertemuan di rumah. Misalnya ada arisan ibu-ibu, atau pertemuan bapak-bapak. Selebihnya, ya, pakai lampu teplok.

Kalau masak, kami memakai ‘luweng’, tungku yang dibuat dari tanah liat dan permanen. Tentu saja dengan memakai kayu bakar. Untuk menghidupkannya, kami memakai ‘blarak’ (daun kelapa) yang dinyalakan dengan korek api. Kemudian kami tiup-tiup supaya nyalanya cepat besar.

Asap dari tungku perapian ini mengebul ke mana-mana. Dan tentu saja, baju kami berbau sangit, bau asap. Meskipun demikian, hasil masakan lebih terasa enak. Tentu saja enak. Karena menyiapkannya saja perlu kerja keras. Dan kami makan ketika memang betul-betul lapar. Jadi rasanya sangat nikmat… hahaha.

(Foto luweng yang persis di rumah)

Saat mau mandi, kami harus menimba air dulu. Ada beberapa model timba. Memakai tali kerekan atau memakai kayu yang diberi bandul di ujungnya, jadi sifatnya seperti tuas yang membantu mengangkat beban. Lalu airnya dialirkan ke bak mandi. Setelah penuh, barulah kami mandi.

Ilustrasi timba kayu

(Ilustrasi timba dari kayu)

Saat malam, kalau mau nonton televisi, kami memakai batere (accu) mobil. Dan di desa kami, hanya ada beberapa orang yang memiliki TV. Jika ingin melihat TV, kami pergi ke rumah tetangga dan menonton TV bersama-sama. Saat itu hanya ada 1 saluran TV, yaitu TVRI.

Lalu waktu berlalu, dan desa kami mendapatkan aliran listrik. Tungku untuk masak kami ganti dengan kompor dan ‘magic jar’ untuk memasak nasi. Accu mobil untuk menonton TV juga sudah diganti dengan aliran listrik. Tidak perlu lagi memakai ‘accu’ mobil yang setiap minggu harus diestrum ulang supaya ada daya listriknya.

Sumur yang dulu memakai timbapun sudah berubah. Timba sudah tidak ada, digantikan oleh mesin pompa air. Saluran dari sumur ke bak mandi sudah ditutup, digantikan dengan pipa paralon untuk mengalirkan air.

Semua segi kehidupan bergantung pada tenaga listrik. Untuk memasak, terutama nasi, kita memakai listrik untuk menghidupkan ‘magic jar’ atau ‘rice cooker’. Untuk mencuci, atau bahkan untuk minumpun kadang kita perlu tenaga listrik. ‘Dispenser’ air milik saya membutuhkan tenaga listrik untuk mengalirkan air.

Jadi, ketika listrik mati, semua sendi kehidupan harian terganggu. Kita tidak bisa memasak, karena tungkunya sudah diganti ‘rice cooker’. Kitapun tidak bisa mandi karena tandon air mungkin sudah kehabisan air dan sumurnya sudah tidak ada timbanya lagi. Bahkan sumur modern saat ini tidak lagi memakai timba. Untuk air minumpun kita kesulitan.

Jadi, ketika keadaan mati listrik dalam jangka waktu lama itu dibandingkan dengan daerah yang tidak pernah dialiri listrik sama sekali, perbandingannya menjadi tidak adil. Dan tulisan ini lahir karena saya mengalami mati listrik cukup lama. Lebih dari 4 jam, dan itu sudah sangat menganggu.

Masih untung mati listriknya sore hari. Coba kalau pagi hari, saat kita sedang mempersiapkan diri untuk bekerja. Pasti amburadul.

 

Salam sehat Indonesia.