banner 728x250

Membangun Kewarasan Masyarakat Indonesia di Era Digital

Apakah kewarasan kita terancam di era digital?

banner 120x600
banner 468x60

Membangun kewarasan atau menggunakan nalar di era kekinian justru menjadi berat.  Ehhmmm…. apakah ini tidak kocak?  Jujurnya, iya!  Bayangkan di era digital jelas kita tidak lagi diperhadapkan pada klenik atau dunia gaib.  Sangatlah berbeda dengan dulu ketika hal gaib dipercayai karena minimnya informasi.  Namun tragisnya kini karena era digital yang deras arus informasi justru berdampak kita kehilangan akal sehat?  Kondisi nyata mengenaskan inilah yang mendorong Kominfo mengingatkan kita pada pentingnya pemikiran kritis.

pi sebenarnya, apa sih yang dimaksudkan dengan nalar dan waras?  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nalar adalah mempertimbangkan baik dan buruk sebelum mengambil keputusan atau berkesimpulan.  Sedangkan waras, adalah sehat jasmani dan rohani, atau akal sehat.

banner 325x300

 

 

Kenapa pemikiran kritis penting, sebab harus diakui media sosial adalah notabene produk hasil bernalar dari mereka yang memiliki nalar diatas rata-rata.  Kemasannya yang apik sanggup “memperdaya” logika atau akal sehat yang berujung hilangnya kewarasan.  Inilah yang dapat menjebak jika kita tidak kritis mencari tahu.

Politik adalah contoh nyata ranah yang kerap membuat warga dunia maya kehilangan nalar atau akal sehatnya.  Sikap membabi buta mendewakan junjungan kerap berujung pada penyebaran hoaks dan penghinaan.

Di tengah memanasnya situasi politik misalnya, akan selalu ada seseorang yang mengubah kisah tentang keburukan dan dengan enteng disebarkan ke berbagai media sosial.  Pun kabar, informasi atau apa pun namanya yang serba bohong.   Hanya saja dikarenakan diwartakan oleh orang yang seakan-akan suci dan soleh, kabar ini bisa menjadi warta gembira penuh sukacita.  Kocaknya, tidak jarang “pelaku” dapat dengan mulus bertukar tempat menjadi korban jika kemudian berujung ke kasus hukum.  Wow…. hahah…begitulah aneh tapi nyatanya negeri ini.

Belum lagi jika kondisi semakin “sedap” manakala gempuran hoaks di tahun politik dibumbui dengan penyedap rasa bernama agama yang dapat dipastikan membuat nalar manusia Indonesia diuji tingkat dewa karena ngeri dilabeli tidak beragama mungkin.  :Padahal tanpa disadari, ada kepentingan yang dikemas cantik.

Sebagai catatannya, mari bercermin kepada Pilkada 2017 ketika politik identitas sukses menjadi batu loncatan untuk meraih suara.  Nostalgia kelam negeri ini yang selalu coba diulang di berbagai tema.  Ibaratnya, apapun jenis masakannya, tetap racikan agama membuat gurih yummy.  Padahal secara akal sehat, agama bukan politik, dan demikian juga sebaliknya.

Kondisi semakin diperparah karena di republik ini, faktanya kaum cerdik pandai dan agamawan yang selama ini menjadi benteng nalar dan moral justru ikut bermain dalam membuat atau menyebarkan berita bohong.  Narasi yang ditelan mentah-mentah tanpa dikunyah oleh sebagian masyarkat kita karena asumsi “mereka-mereka” adalah orang benar.

Meningkatnya suhu politik belakangan ini misalnya, tidak dapat lepas dari nama Anies Baswedan yang santer digadang-gadang sebagai kandidat capres untuk 2024.  Terlepas bagaimana Anies dan kelucuan tentangnya, nyatanya Anies memikat.

Kini berpulang kepada rakyat yang diharapkan mampu berdemokrasi sehat di ruang digital dengan menggunakan akal sehat.  Bahkan tidak hanya Anies, tetapi siapapun capres pengganti Presiden Joko Widodo (Jokowi) nantinya pada akhirnya butuh kewarasan agar tidak terjun bebas nantinya.  Informasi yang lalu lalang di dunia maya harus dipastikan kebenarannya.  Bahkan dijadikan rujukan sebelum menjatuhkan pilihan.

Artinya literasi digital! menjadi kuncinya.  Inilah pekerjaan besar Kominfo untuk mengedukasi masyarakat agar tidak hanya cakap menggunakan dan memanfaatkan internet.  Tetapi juga menjadikan ruang digital sebagai media yang produktif dan sehat.

Kini dunia digital adalah dunia kita yang sekarang.  Sehingga sudah sepatutnya kita mengisinya sebagai ruang yang berbudaya yang penuh dengan muatan nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai gambaran bahwa kita adalah Indonesia.

Jangan biarkan kita menjadi mata rantai penyebar hoaks yang memecah belah bangsa.  Apalagi tersulut api kebencian hanya karena berita.  Padahal keberadaan ruang digital justru memungkinkan kita mencari tahu kebenaran sebuah berita dari berbagai sumber.  Bukankah, inilah yang harus kita lakukan?

Meminjam pendapat pakar manajemen Peter M Senge yang mengampanyekan perlunya berpikir kritis untuk menyikapi aneka perubahan.  Terlebih kita saat ini memang sedang dalam fase transformasi digital.  Senge berpedapat ada 2 hal utama untuk berpikir kritis, yaitu:

  • Jangan melihat potret sebagian; lihatlah proses keseluruhan.
  • Jangan melihat sebab-akibat satu arah; lihatlah sebab-akibat antar-bagian.

Terkait pilpres 2024 kita tentunya sepakat bahwa pengganti Jokowi haruslah mampu melanjutkan tongkat estafet pembangunan negeri ini.  Serta tidak memberikan tempat untuk pengasong agama hidup subur di negeri ini.  Jadilah warga dunia maya yang cerdas dan tidak terperangkap hoaks, mata rantai, atau justru menjadi produsen hoaks!

Tentang siapapun nantinya yang muncul sebagai kandidat di Pilpres 2024 sejatinya dipilih oleh rakyat berdasarkan prestasi, bukan narasi!

 

 

Saya, Gendhis yang mencintai negeri ini.

 

 

 

 

_____

 

*Gendhis, pegiat literasi media, pendukung tagar #WarasBernegara, #SayaSpartan

 

 

Sumber:

https://www.indonesiatech.id/2022/06/29/pemikiran-kritis-bisa-jadi-pencegahan-penyebaran-hoaks-di-medsos/https://mediaindonesia.com/opini/440670/merawat-nalar-kritishttps://radarbanyuwangi.jawapos.com/nasional/08/04/2018/menjaga-kewarasan-di-era-digital/

 

 

banner 325x300