Menuju Peralihan dari TV Analog ke Digital

Johnny Plate

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memastikan suntik mati TV analog secara nasional akan tepat waktu pada 2 November 2022.  Semula analog switch off (ASO) dijadwalkan pada 5 Oktobber 2022.  Tetapi diundur atas permintaan Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) dengan memperhatikan kondisi kesiapan masyarakat Jabodetabek yang belum sepenuhnya beralih ke siaran digital.

“Masyarakat di DKI yang siap dengan [televisi] digital hanya 43 persen dan yang tidak siap dengan digital 57 persen, berdasarkan update Nielsen per 1 Oktober 2022,” ungkap Ketua ATVSI Syafril Nasution, Selasa (4/10).  Dikutip dari: cnnindonesia.com

Di antara kurang sosialisasi atau ketidakpekaan masyarakat kita.  Tidak mudah memang untuk Indonesia memasuki era digital.  Sebab kemudahan digital kerap membuat kita lebih tertarik pada berita-berita yang kurang berbobot.  Sehingga terlewat pada kualitas, termasuk selama setahun lebih ASO sudah disosialisasikan.

Bisa jadi juga kita tidak peduli atau menganggap penting Analog Switch Off atau ASO menuju TV siaran digital, menjadi keputusan strategis yang akan mengubah wajah perkembangan komunikasi dan informasi di Indonesia.  Sebab, kebanyakan dari kita merasa cukup nyaman saja dengan menikmati 60 tahun siaran televisi (TV) menggunakan sistem analog.   Padahal tragis nggak sih, membayangkan jauhnya Indonesia tertinggal dalam penerapan teknologi siaran digital.

Sementara berdasar kesepakatan International Telecommunication Union (ITU) di Jenewa pada 2006, batas akhir dihentikannya siaran analog (analog switch off/ ASO) kemudian penyiaran digital dilaksanakan sepenuhnya oleh seluruh negara anggota ITU adalah 17 Juni 2015.  Ironisnya Indonesia anggota aktif ITU sejak tahun 1949 dan selalu menjabat sebagai anggota Dewan ITU dalam 4 dekade terakhir sejak tahun 1982.

Oleh karenanya sudah sepatutnya Indonesia bergegas, dan sejak setahun lebih ASO disosialisasikan kepada masyarakat.  Beberapa isu pun bersimpangsiur.  Salah satunya yang paling mencuat mengira berbayar.  Padahal ini gratis!  Ini hanyalah migrasi alias perubahan dari analog menjadi digital.

Apakah dengan migrasi TV digital harus ganti TV?  Maka jawabannya, tidak!

Kita pun dapat memastikan sendiri perangkat TV di rumah apakah sudah ada pilihan DTV.  Jika ada, berarti kita sudah bisa menerima siaran televisi digital.  Tetapi, bagi yang belum, maka cukup menambahkan dengan perangkat set-top-box (STB) lalu memasangnya pada TV yang dimiliki.

Berikutnya, pertanyaan di mana dibelinya STB?

Ini pun tidak perlu panik, karena STB mudah dibeli di sejumlah toko maupun e-commerce. Harganya beragam tergantung dengan merek yang dipilih, mulai dari Rp 150 ribu hingga berkisar Rp 350 ribu.  Namun pastikan membeli STB yang sudah bersertifikat Kominfo.

Kenapa, karena untuk jaminan bahwa STB pasti bisa digunakan.  Serta, semua fitur di siaran digital bisa berfungsi optimal.  Sedangkan bagi masyarakat yang tidak mampu, pemerintah menyiapkan STB gratis.  Ribet, dan ngejelimet yah?  Sebenarnya tidak juga, karena semua telah dipersiapkan pemerintah dengan mempertimbangkan beberapa kebaikannya.

Ehhmmm…apa sih kelebihannya TV digital?

Inilah kelebihan siaran televisi digital yang bisa dinikmati masyarakat, yaitu:
Kualitas siaran yang lebih stabil dan tahan terhadap gangguan (interferensi, suara dan/atau gambar rusak, berbayang, dsb).
Memungkinkan siaran dengan resolusi HDTV secara lebih efisien.
Kemampuan penyiaran multichannel dan multiprogram dengan pemakaian kanal frekuensi yang lebih efisien.
Kemampuan transmisi audio, video, serta data sekaligus.
Lalu mungkin ada pertanyaan, keuntungannya apa jika migrasi ke digital?

Sulit untuk dicerna dan dipahami masyarakat.  Tetapi sebagai gambarannya dengan migrasi siaran televisi analog ke digital bisa menghemat pita frekuensi hingga 112MHz.  Diketahui selama ini penyiaran TV analog boros dalam penggunaan frekuensi penyiaran.

Sehingga dengan ketersediaan frekuensi setelah migrasi siaran dari televisi analog ke digital juga akan berdampak pada persiapan adopsi jaringan 5G di Indonesia. Ujungnya, masyarakat bisa mendapatkan jaringan internet yang sangat cepat dengan 5G nantinya.

Pertimbangan lainnya lagi, jika dengan teknologi analog dibutuhkan frekuensi 8 Mhz, maka pada digital frekuensi sebesar ini dapat digunakan untuk memancarkan 5 siaran televisi.  Bahkan jika di teknologi analog perangkat strukturnya hanya bisa untuk 1 stasiun TV, maka pada digital 1 infrastruktur bisa untuk 13 stasiun.  Kesimpulannya banyak hal yang bisa dihemat dan dikembangkan dengan digital, sekaligus menghasilkan kualitas dan kuantitas yang jauh lebih baik.

Bagaimana, apakah kita sudah siap?  Ada baiknya kita bantu pemerintah menjadi duta mensosialisasikan ASO atau migrasi ke TV digital.  Inilah tonggak sejarah yang mengawali siaran digital pertama di Indonesia.