NKRI Dan Rongrongan Negara Agama: Sebuah Renungan HUT Ke 77 RI

HUT ke 77 RI

NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah sebuah negara yang dibentuk berdasarkan kesepakatan para pendiri bangsa. Para pendiri bangsa itu bersepakat untuk mendirikan sebuah negara yang berdasarkan pada Pancasila. Mereka rela membuang egoisme kesukuan maupun keagamaan mereka.

Negara kita ini memiliki banyak keragaman suku, keragaman budaya, keragaman bahasa, dan keragaman yang lainnya. Negara kita sangat kaya akan perbedaan. Dan perbedaan itulah yang justru mempersatukan kita.

Namun saat ini, perbedaan itu justru dipersoalkan oleh sekelompok orang yang ingin mendirikan negara berdasarkan salah satu agama yang ada di Indonesia. Kelompok ini ingin mendirikan negara khilafah. Mereka ingin mengganti NKRI menjadi negara khilafah.

Kelompok ini sangat mengagung-agungkan negara khilafah. Mereka beranggapan, semua masalah akan selesai dengan khilafah. Bahkan permasalahan kelangkaan minyak gorengpun diatasi dengan khilafah. Kenaikan harga BBM dapat diatasi dengan khilafah. Apapun masalahnya, khilafah solusinya. Hehehe… Macam iklan saja.

‘Apapun makanannya, minumnya teh….’

Mereka tidak menyadari, atau memang tidak mau menyadari, bahwa semua masalah dapat diuraikan dengan logika dan dengan sistem yang baik. Tidak perlu ganti sistem negara.

Orang-orang ini terbawa ‘nostalgia’ negara khilafah Turki Utsmani (Ottoman) yang pernah jaya pada zamannya. Mereka lupa, bahwa Turki Utsmani inipun akhirnya runtuh dan terpecah menjadi beberapa negara. Salah satunya adalah Arab Saudi.

Jadi, saat ini, tidak ada satupun negara yang berbentuk khilafah. Arab Saudipun tidak berbentuk khilafah, tetapi Kerajaan. Dan bagusnya, Arab Saudi menegaskan akan menghukum pancung siapapun yang berniat mendirikan negara khilafah. Hukuman potong leher tanpa pengadilan. Indonesia kapan, ya?

Di Indonesia, banyak orang bebas menyuarakan pendirian negara khilafah. Semua itu dilakukan atas nama kebebasan berekspresi. Menyuarakan pendirian negara khilafah sebetulnya dapat dianggap sebagai tindakan makar dan dapat dikenakan hukuman yang lumayan berat. Tetapi, jarang sekali kita melihat atau mendengar ada hukuman berat yang dijatuhkan untuk orang-orang yang menyuarakan pendirian negara khilafah ini.

Ketika suara mereka mendapat penentangan dari banyak pihak, jalan lebih lembut mereka lakukan. Banyak diantara mereka yang tidak langsung menyuarakan pendirian negara khilafah. Mereka melakukan hal-hal yang lebih halus, tetapi efeknya nanti bisa mengarah ke perubahan bentuk negara menjadi khilafah.

Ada 2 hal yang perlu kita waspadai pada kelompok ini. Dua hal ini mereka lakukan secara terus-menerus.

  1. Menghapuskan Budaya

Ketika orang sudah tidak kenal dengan budayanya sendiri, maka dengan mudah mereka akan beralih ke budaya lain. Apalagi ketika mereka membenci budaya sendiri. Maka, budaya lain akan mereka agung-agungkan.

Kita sering mendengar pengkafiran suatu kegiatan budaya atau salah satu bentuk budaya yang sudah menjadi bagian dari bangsa kita.

Kita pernah mendengar, bagaimana wayang kulit diharamkan. Mereka tidak tahu, bagaimana dulu para Walisanga, terutama Sunan Kalijaga, menggunakan budaya salah satunya wayang sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam.

Mereka tidak tahu, ada banyak ajaran Islam di dalam cerita wayang itu. Salah satunya adalah kisah tentang pusaka yang bernama Jamus Kalimasada. Pusaka ini berbentuk kitab dan dimiliki oleh Puntadewa, tokoh Pandawa yang paling tua. Kata Kalimasada ini singkatan dari kalimat syahadat yang mengakui satu Allah dan Nabi Muhammad sebagai rasul.

Kita juga pasti pernah mendengar berita tentang diharamkannya penggunaan sesajen, atau upacara labuhan, atau kegiatan budaya lainnya. Semua itu pada akhirnya akan menuju pada penghapusan budaya kita sendiri. Dengan mengharamkan kebudayaan, mereka berharap kita akan membenci budaya kita.

Ketika semua itu terjadi, paham khilafah akan mudah sekali ditanamkan dan orang-orang akan mudah digerakkan untuk mengubah negara kita. Karena itu, ketika ada berita tentang pengharaman budaya kita, kita patut waspada. Kita wajib melawan demi tegaknya negara kita, NKRI tercinta.

 

  1. Mengaburkan sejarah

Hal kedua yang patut diwaspadai adalah pengaburan sejarah negara kita. Hal ini tidak merujuk pada pengharaman sejarah, tetapi mengaburkan pelaku sejarah. Semua pelaku sejarah, bahkan benda-benda bersejarah akan dirujuk ke dalam salah satu agama di Indonesia.

Kita pasti pernah mendengar berita nama patih Gajah Mada. Gajah Mada yang beragama Buddha, diberitakan beragama Islam. Namanya sebenarnya adalah Gaj Ahmada.

Tentu kita tertawa, menertawakan kekeliruan itu. Tetapi, kita tidak sadar bahwa kekeliruan itu memang disengaja. Ketika tidak ada yang mengkritik, atau memprotes, ada banyak orang yang percaya bahwa nama Gajah Mada sebenarnya adalah Gaj Ahmada. Dan dia beragama Islam, bukan Buddha. Kekeliruan yang tidak diluruskan, akan dianggap sebagai kebenaran.

Kita juga pasti pernah mendengar bagaimana Borobudur dikatakan sebagai peninggalan Nabi Sulaiman. Kita juga pasti tertawa. Bahkan membodoh-bodohkan. Tetapi ketika kekeliruan ini dibiarkan, pasti ada orang yang mempercayainya.

Yang paling baru adalah nama Kapiten Pattimura sebenarnya adalah Ahmad Lussy dan dia beragama Islam. Kita yang tahu, pasti akan menertawakannya. Tetapi yang tidak tahu, mereka bisa percaya. Nama Ahmad Lussy memang ada di Maluku. Dan Ahmad Lussy beragama Islam. Tetapi dia bukan Pattimura. Pattimura sendiri bernama asli Thomas Matulessy dan dia beragama Kristen.

Hal-hal seperti ini patut diwaspadai. Ketika semua tokoh pahlawan menjadi orang-orang yang seagama, agama apapun itu, paham negara agama (contohnya khilafah) akan mudah ditanamkan.

Relakah kita bila sejarah kita diputarbalikkan? Relakah kita bila budaya kita diharam-haramkan? Relakah kita bila negara kita hancur dan menjadi negara berdasar salah satu agama dan meniadakan agama yang lain?

 

Salam sehat Indonesia

 

Nugraha, pegiat literasi media

#WarasBernegara

#SayaSPARTAN

 

Sumber foto:

https://www.tribunnews.com/nasional/2022/08/10/hut-ke-77-ri-tahun-2022-tema-link-download-logo-link-twibbon