Opini  

Pengalaman Berburu Beasiswa LN Kementrian Kominfo (Part 3)

Pengalaman Berburu Beasiswa LN Kementrian Kominfo (Part 3

Kali ini saya akan membagikan pengalaman berharga terkait beasiswa Kominfo. Tulisan kali ini menutup dua artikel sebelumnya mengenai perjalanan ikut seleksi beasiswa Luar Negeri dari Kementrian Kominfo. Jujur sebenarnya dari awal saya agak pesimis karena memang latar belakang pendidikan saya tak terkait Kominfo. Namun, akhirnya saya memberanikan mendaftar hingga melalui serangkaian proses ujian tertulis, psikotes hingga wawancara.

Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha, sisanya akan menjadi urusan Tuhan untuk menentukan nasib kita. Usia 30an lebih dengan satu anak balita harusnya tak menjadi penghadap bagi seseorang untuk menggapai cita-citanya. Kalau tekad saya untuk mendapat beasiswa S2 terus ditunda, maka bisa jadi rejeki yang seharusnya didapat malah pergi. Semenjak tahun 2020 saya putuskan untuk intens memburu berbagai beasiswa di banyak negara. Dari beasiswa Chevening, Erasmus, Fulbright, AAS, Romanian Government Scholarship, Stipendium Hungaricum dan beasiswa internasional lain sudah saya apply dua kali hingga tahun 2022 ini.

Selain itu, saya sudah membidik beasiswa dari pemerintah Indonesia seperti LPDP dan Kominfo. Kegagalan demi kegagalan saya temui hingga puluhan kali. Beasiswa Kominfo yang saya harapkan bisa membawa saya ke Eropa yakni Belanda akhirnya ikut pupus. Setelah membaca dua artikel saya sebelumnya, pasti tahu kalau saya memang kurang persiapan. Meski begitu saya berpikir ini bukan akhir segalanya, hanya belum ketemu jodoh beasiswanya.

Kembali lagi, tanggal 9 Mei 2022 saya mendapat email berisi penolakan dari panitia beasiswa Kominfo. Berikut kira-kira isinya:

“Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Beasiswa Beasiswa S2 Luar Negeri Kominfo Tahun 2022

Yth. Peserta Seleksi Beasiswa S2 Luar Negeri Kominfo Tahun 2022,

Terima kasih atas ketertarikan Saudara/i untuk mengikuti program Beasiswa S2 Luar Negeri Kementerian Kominfo Tahun 2022“. Namun, mohon maaf kami sampaikan bahwa Saudara belum dapat diterima karena belum memenuhi kualifikasi kami.

Tetap semangat!”

Email ini sekaligus mengakhiri perjalanan untuk mendapatlan LoA dari salah satu kampus terkemuka di Eropa, University of Twente. Padahal selang 3 hari dari pengumuman tersebut saya mendapat email berisi permintaan essay dari kampus untuk menyempurnakan aplikasi saya.

Berikut isi email dari pihak kampus tanggal 12 Mei 2022:

“PSTS Entry Assignment Niha Nihayatur Romah

Thank you for showing serious interest in our MSc degree programme Philosophy of Science, Technology and Society (PSTS).

Based on your online submitted documents we already conclude that you seem to be a highly qualified and very motivated candidate.

However and nevertheless (and like we do with all applicants), the Admission Committee would like to assess your academic competences in-deep, and at the same time we offer applicants the possibility to find out more closely whether the profile, nature and demands of our PSTS programme sufficiently match with your personal ambitions.

Therefore, you are invited to write a short essay (max. 2000 words on a concrete technological development and to discuss this development by using the theoretical framework presented in one of the texts below.”

Jelas saja email tersebut tak perlu ditindaklanjuti karena tiket beasiswa sudah pupus. Meski saya sudah bertekad mempelajari hal baru yang berbeda dari latar belakang pendidikan saya dibidang sains, apa boleh buat kalau Tuhan berkehendak lain.

Tanggal 25 Mei 2022 saya kembali mendapat respon dari pihak kampus yang juga menutup proses untuk mendapatkan LoA (Letter of Admission).

“We are very sorry that we did not receive your entry assignment before the deadline of 22 May 2022. We have therefore closed your admission process to the University Twente.”

Apakah saya menyerah? Tentu saja tidak. Saya langsung bangkit untuk fokus ke beasiswa lain yang saya apply. Kebetulan bulan April aplikasi saya untuk beasiswa GKS ke Korea Selatan masuk tahap interview kampus. Saya dinyatakan lolos tahap satu dan tahap 2 di awal bulan Juni. Awal Juli ini saya kembali mendapat kabar bahagia setelah lolos tahap akhir dan mendapat kesempatan kuliah 3 tahun termasuk 1 tahun program bahasa. Saya merasa terharu karena harapan saya mendapat beasiswa Kominfo akhirnya tergantikan. Tapi, saya tetap bertekad untuk terus mengedukasi masyarakat terutama terkait literasi digital kementrian Kominfo meski saya tak lagi berada di tanah air.

Salam Indonesia Maju!