Pengalaman Berburu Beasiswa Luar Negeri Kominfo (Part 1)

Oleh: BTS*)

 

Halo sobat spartan di seluruh nusantara! Kali ini saya akan sedikit berbagi cerita mengenai pengalaman pribadi mendaftar beasiswa kominfo, khususnya untuk tujuan luar negeri. Tahun ini ada lima negara yang menjadi tujuan beasiswa kominfo, tiga di Asia dan dua di Eropa. Untuk tujuan Asia diantaranya Republik Rakyat Tiongkok, India dan Jepang. Sedang tujuan Eropa yakni Belanda dan Hungaria. Tentunya pemilihan negara dan kampus tujuan yang diberikan berdasarkan pertimbangan kesesuaian program dan kontribusi pada kominfo kedepannya.

Berbeda dengan beasiswa LPDP yang lebih populer, persyaratan beasiswa kominfo sebenarnya cukup mudah. Perbedaannya lebih pada tujuan studi dan opsi kampus yang terbatas sesuai lingkup kominfo. Kalau LPDP memiliki boklet ratusan universitas di seluruh dunia, di kominfo hanya terbatas lima negara saja untuk kategori luar negeri. Perbedaan lain di beasiswa kominfo memberikan batasan waktu yang cukup singkat untuk mendapatkan LoA atau Letter of Admission dari kampus tujuan. Berbeda dengan beasiswa LPDP yang mana batasan waktunya cukup panjang. Bahkan pelamar yang belum punya LoA masih bisa berburu LoA untuk perkuliahan tahun depan.

Perbedaan lain yakni kategori pelamar beasiswa LPDP lebih bervariasi, dari penyandang diasabilitas, afirmasi hingga daerah tertinggal. Sedang beasiswa kominfo hanya terbagi untuk ASN/Polri dan kategori umum. Selebihnya setelah dinyatakan sebagai penerima beasiswa, LPDP menyediakan fasilitas program bahasa bagi pelamar yang belum memiliki IELTS atau TOEFL. Begitu kira-kira gambaran umum terkait perbedaan kedua beasiswa bergengsi dari pemerintah ini. Untuk uang saku, tiket pesawat, visa dan lainnya rasanya tak ada perbedaan jauh.

Setelah membandingkan beasiswa kominfo dan beasiswa lainnya dari pemerintah, mari kita masuk ke persyaratan administrasi. Beasiswa kominfo memiliki batasan usia pelamar yakni 33 tahun untuk masyarakat umum dan 37 tahun untuk ASN/Polri. Pelamar harus mengunggah CV, ijazah, transkrip, KTP, paspor, sertifikat bahasa inggris, surat rekomendasi, surat ijin atasan, LoA bagi yang sudah memiliki dan ouline rencana tugas akhir. Nah, bagian outline rencana tugas akhir ini bisa dibilang lebih sederhana ketimbang essay beasiswa LPDP. Ini lantaran outline rencana tugas akhir hanya mencantumkan judul, tujuan dan manfaat yang ditulis maksimal satu lembar halaman. Berbeda dengan essay LPDP di mana personal statement antara 1000 hingga 1500 kata dan essay kontribusi antara 1500 hingga 2000 kata. Belum lagi bagian formulir data diri yang memiliki banyak sekali pertanyaan.

Setelah lolos administrasi, pelamar beasiswa akan dikirim email dan juga notofikasi di Whatsapp mengenai tes psikotest, wawancara psikolog dan lanjut wawancara user atau pimpinan. Untuk tahap tes tulisnya bisa dibilang jauh lebih mudah ketimbang soal tes SBK atau tes bakat skolastik beasiswa LPDP. Pengalaman tahun lalu, saya sendiri gagal dua kali untuk tes tulis ini karena pertanyaannya sangat sulit. Ada yang mengatakan setara dengan GMAT. Namun, tahun ini tes SBK sudah dihilangkan bagi pelamar yang memiliki LoA. Sebenarnya saya memiliki beberapa LoA dari beberapa kampus di Inggris hingga New Zealand. Sayangnya tidak bisa mendaftar di tahun ini karena kendala verifikasi NIK yang nyangkut di dukcapil 🙁

Untuk wawancara psikolog, pertanyaan utamanya menyangkut pengalaman kita selama bekerja. Memang beasiswa kominfo mensyaratkan secara tidak langsung ada pengalaman setidaknya bekerja minimal dua tahun. Karena kalau tidak ada pengalaman tersebut, siap-siap aaja kewalahan menjawab wawancara psikolog. Untuk detail pertanyaan psikolog dan user, akan saya bagikan di artikel mendatang.

Selain seleksi dengan pihak kominfo, jangan lupa mendaftar program di kampus tujuan. Karena kalau tidak, meski sudah dinyatakan lolos beasiswa, pelamar tidak akan bisa berangkat lantaran tak memiliki LoA. Saya sendiri sempat kecolongan di bagian ini karena awalnya mengira kalau daftar kampusnya menunggu lolos beasiswa. Belum lagi kendala teknis saat melamar kampus tujuan. Untuk detail cara mendaftar di kampus Belanda (Umiversity of Twente), akan saya bagikan di artikel mendatang.

Bagi saya sejauh ini proses seleksi beasiswa kominfo akan sangat mudah bagi mereka yang memiliki pengalaman pekerjaan yang cukup. Jangan lupa meningkatkan skor bahasa sebagai syarat mendaftar kampus tujuan. Semoga saja ada kabar bahagia dari beasiswa kominfo maupun kampus di Belanda, sehingga saya semakin bersemangat membagikan pengalaman ini. Bagi teman-teman yang tertarik menekuni bidang studi yang berkaitan dengan komunikasi dan teknologi informatika, beasiswa kominfo ini sangat layak dicoba!

Salam Indonesia Maju!

______
*) BTS, pegiat literasi, pendukung tagar #WarasBernegara #SayaSpartan