Peran Kominfo Membumikan Pancasila di Era Digital

Mengembalikan Pancasila sebagai nafas kehidupan bangsa Indonesia

Peran Kominfo dalam membumikan Pancasila

Peran Kominfo dalam percepatan transformasi digital di Indonesia terus berjalan demi mengoptimalkan peluang ekonomi digital tanah air.  Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny Plate bahkan mengatakan bahwa Indonesia menjadi negara pemanfaat satelit terbesar di kawasan Asia. Bagaimana terhadap Pancasila?

“Saat ini Indonesia itu menjadi negara pemanfaatan satelit terbesar di Asia paling besar dengan kapasitas terbesar satelit yang digunakan,” papar Menkominfo Johnny G. Plate dalam Asia Tech x Summit Singapore 2022: Technology, Society and The Role of Policy yang berlangsung di Millenia, Singapura, Selasa (31/05).  Dikutip dari: indonesiatech.id

Di satu sisi ini kabar baik.  Namun, di lain sisi menjadi tantangan untuk Indonesia.  Kenapa, karena saat ini informasi menjadi begitu mudah untuk diakses.  Akibatnya, Pancasila sebagai prilaku berbangsa dan bernegara seperti terhilang.  Kita semakin tenggelam di dunia maya, dan tidak lagi berinteraksi fisik seperti dulu.

https://nasional.sindonews.com/

Sementara manusia adalah makhluk sosial karena berinteraksi satu dengan lainnya.  Terlebih interaksi fisik inilah mampu menumbuhkan kepekaan dan toleransi yang merupakan nilai yang menjadi identitas rakyat Indonesia.  Tetapi kini interaksi itu tergantikan dengan memanfaatkan teknologi di dunia maya.  Inilah kekhawatirannya, mengingat Indonesia sebagai bangsa yang besar dengan keragamannya.

Sejatinya sebuah karunia karena kita memiliki Pancasila yang merupakan ideologi yang menghormati perbedaan, hak asasi manusia, dan memperkuat persatuan.  Sepatutnya kita berbangga karenanya.  Di mana terdapat lima nilai di dalamnya, yaitu: nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.  Ke-lima nilai inilah yang menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Miris derasnya arus informasi tidak disikapi dengan baik oleh sebagian masyarakat kita.  Kita justru terjebak oleh kemajuan teknologi, dan berujung menjadi manusia egois, ataupun memusuhi saudara sendiri.  Begitu mudahnya kita disesatkan oleh informasi liar yang beredar di dunia maya.  Padahal seharusnya, kemudahan mendapatkan informasi menjadikan kita lebih bijak dan cerdas.   Sehingga bangsa ini menjadi lebih maju, dan bukan sebaliknya.

Fakta teknologi telah membawa perubahan sosial di era digital yakni lahir platform baru, jurnalisme online, industri online.  Kemudian disusul munculnya perilaku baru berkomunikasi, interaksi dunia maya, seperti upload story, komentar di media sosial.

Ngeri sedap ketika mendapati media sosial pandai menyajikan informasi yang mengandung nilai ideologi komunisme, khilafah, anarki.  Tersamarkan dalam konten Facebook, Twitter, Tiktok, dan bahkan Youtube.  Dikemas dengan sangat menarik, sehingga tanpa disadari mencuci otak dan berujung pada perpecahan anak bangsa.

Bukan sebuah halusinasi bahkan agama menjadi perdebatan dan berujung menjadi pemecah belah di negeri ini.  Sementara nilai ketuhanan adalah yang utama di negeri ini.  Tetapi, justru kita dipecah belah oleh karena keyakinan?  Ini mengerikan dan miris sekali!  Kemana Pancasila yang menjadi pedoman hidup di dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara di republik ini.

Pertanyaannya mungkin, apakah bisa Pancasila hidup di era digital meskipun interaksi terjadi di dunia maya?  Sejujurnya sangat bisa!  Implementasinya kembali kepada diri kita masing-masing.  Demikian sebagai ilustrasi implementasi kelima nilai pada Pancasila di era digital:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan kita tidak menggunakan ruang digital sebagai sarana mendiskreditkan dan menistakan agama lain.  Tetapi sebaliknya, kita menggunakan dunia maya untuk menghormati perbedaan keyakinan.
  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, bahwa ruang digital bukan milik perorangan.  Sehingga kita pun harus bertenggang rasa dan menjunjung HAM.
  3. Sila Persatuan Indonesia, bahwa Indonesia adalah bhineka.  Namun kebhinekaan tidak menjadikan kita terpecah sekalipun di ruang digital.  Justru sebaliknya keberagaman budaya, bahasa dan agama menjadikan warna untuk negeri ini.
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, bahwa kebebasan berekspresi di ruang digital juga harus saling menghargai pendapat orang lain.  Tidak saling menjatuhkan dan menghakimi.
  5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, bahwa di ruang digital sekalipun kita harus peduli dan gunakan teknologi untuk membantu mengurangi penderitaan orang lain, serta bergotong royong.

Artinya, disinilah peran penting digital culture, yang merupakan kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan.  Sebab, sebaik-baiknya era digital tetapi informasi tanpa kemampuan memahami dan mengolah informasi tersebut secara baik, maka berujung banyaknya masyarakat terpapar oleh informasi yang tidak benar.

Kita setuju kemajuan teknologi informasi di era digital tentu sebuah kabar baik.   Kita pun tentunya setuju Pancasila “nafas” hidup rakyat Indonesia karena nilai yang terkandung di dalamnya.  Sehingga Pancasila menjadi solusi dari segala permasalahan era digitalisasi.  Nilai-nilai Pancasila harus dtanamkan oleh setiap Keluarga Indonesia, dan diwariskan demi keutuhan bangsa.

Saya, Gendhis yang mencintai negeri ini.

_____

*Gendhis, pegiat literasi media, pendukung tagar #WarasBernegara, #SayaSpartan

Sumber:

https://www.indonesiatech.id/2022/06/02/menkominfo-johnny-plate-indonesia-jadi-pengguna-satelit-terbesar-se-asia/

https://kumparan.com/zahra-izzah-rahmadina/pancasila-di-era-digital-1x241OXxbeq/ful

https://era.id/nasional/86844/bpip-sebut-pancasila-bisa-jadi-ideologi-alternatif-dunia-bikin-barack-obama-cemburu