Ramaikan Hari Guru Nasional, Menteri Kominfo Ajak Guru Menguasai Tekhnologi Digital

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. (UU No. 14 Tahun 2005)

Sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan tanggal 25 November selain sebagai HUT PGRI juga sebagai Hari Guru Nasional. Untuk memperingati Hari Guru Nasional 2022, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud Ristek) telah memberikan berbagai apresiasi terhadap dedikasi guru termasuk dalam menyelenggarakan peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2022.

Karena itu, menyambut Hari Guru pada 25 November mendatang, Kominfo mengajak dunia pendidikan untuk mempercepat proses transformasi digital.  Adapun salah satu tujuannya yaitu visi Indonesia 2045.  Di mana mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian adalah pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Transformasi digital, apa sih yang dimaksud dengan istilah ini di dalam dunia pendidikan?  Begini, transformasi digital dalam pendidikan bermakna mendigitalkan proses dan produk layanan pendidikan untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran bagi semua pihak yang terlibat.  Bahkan juga dapat diartikan transformasi digital dalam dunia pendidikan sebagai perubahan pembelajaran dari cara berpikir konvensional ke teknologi sehingga menjadi lebih canggih.

Di dalam hal ini terdapat 3 fokus, yaitu:

Aksesibilitas
Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini dengan kemajuan dan kemudahan teknologi digital telah memungkinkan siswa mengakses sumber belajar lebih mudah, sekaligus lebih murah.  Siapa pun di seluruh pelosok dunia, dari segala usia, dengan status sosial ekonomi yang berbeda memiliki akses ke kelas belajar dan sumber daya pembelajaran melalui internet.  Bahkan, di saat yang sama, teknologi seperti text-to-speech telah menghilangkan hambatan bagi siswa disabilitas, yang selama ini menghadapi hambatan dalam mengikuti proses kegiatan pembelajaran.

Pembelajaran interaktif
Berkat teknologi dan ketersediaan berbagai macam aplikasi, format pembelajaran menjadi lebih interaktif.  Sebagai contohnya, pembelajaran bahasa yang dilakukan secara interaktif melalui berbagai platform aplikasi dan mampu menjangkau lebih banyak peserta.

Pembelajaran adaptif
Bahwa teknologi komputer dan artifial intelligence (AI) memungkinkan metode pendidikan diselaraskan dengan keinginan para peserta didik.

Era digital nyatanya telah mengubah pola berpikir siswa.  Ini artinya, seharusnya pendidik tidak lagi berpikir mengenai apa yang akan diajarkan kepada siswa.  Melainkan bagaimana materi pelajaran dikemas, dan disampaikan.  Kenapa?  Sebab, sebenarnya di era digital seperti saat ini, sangatlah mudah untuk siswa mengakses dan menjelajahi dunia untuk menambah pengetahuan.

Singkatnya, apapun mereka bisa pelajari di dunia digital sebenarnya.  Itulah sebabnya, penting peran serta pendidikan untuk menggali lebih dalam potensi siswa.  Sekaligus menggunakan kemudahan teknologi digital untuk belajar lebih banyak hal.  Sebab, biar bagaimanapun sekolah secara fisik tetap perlu, karena peserta didik tetap membutuhkan interaksi, di mana mereka belajar hal bersosialisasi.

Pertanyaannya sudahkah sekolah dan guru siap untuk menggunakan teknologi dalam pendidikan? Apakah mereka sadar akan manfaatnya?  Ehhhmmm….. tidak butuh waktu lama rasanya untuk menjawab.  Faktanya pendidik kita masih tergopoh-gopoh menguasai teknologi.

Ironis memang ketika kerap kali menemui guru yang bahkan tidak mengerti cara membagikan file Pdf misalnya, ataupun tidak mengerti membuat presentasi dengan PowerPoint, atau bahkan tidak tahu cara membuat video materi pembelajaran.  Konon pula untuk bisa menyajikan atau menggali potensi lebih dalam dengan memanfaatkan teknologi digital.  Kenyataan di lapangan, banyak pendidikan hanya meminta siswa melihat konten youtube si A, B, C ataupun si D.

Sementara, katakanlah saat ini anak generasi Z lahir saja sudah langsung bermain gadget.  Mereka tumbuh di dunia yang serba digital dan canggih.  Apakah ini tidak tragis, karena guru yang mendidik justru tertinggal jauh dari peserta didiknya dalam hal teknologi tentunya.  Padahal yang kita bicarakan disini adalah mewujudkan manusia Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Seperti kita ketahui untuk Indonesia, dalam hal ini Kominfo telah melakukan banyak terobosan demi memudahkan masyarakat Indonesia mengakses teknologi, sebagai contohnya adalah pembangunan infrastruktur, satelit, dan pembangunan BTS demi memperluas jaringan internet.  Kesemuanya juga dimaksudkan untuk membuat dunia pendidikan menjadi lebih baik.

Sadar akan hal ini Kominfo memberikan perhatian kepada dunia pendidikan dalam hal penguasaan teknologi digital.  Menekankan kini bahwa selain menggunakan metode belajar konvensional, setiap guru juga harus menguasai metode belajar berbasis teknologi digital.  Kombinasi kedua metode ini penting untuk meningkatkan kemampuan adaptasi dunia pendidikan terhadap perkembangan zaman.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, Mira Sahid yang juga seorang penulis, blogger, dan content creator dalam acara Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi Guru Wilayah 3T di Kota Sorong, Papua Barat, Rabu (28/09/2022).

“Hal pertama sebelum membuat konten adalah menempatkan diri sebagai penonton. Sekarang ini dengan berbagai kemudahan, bapak dan ibu guru bisa memanfaatkan media sosial untuk membuat konten pembelajaran yang menarik,” tuturnya.  Dikutip dari: Kominfo.go.id

Mungkin sebagai gambaran lainnya, kita ambil saja contohnya ketika seorang guru mata pelajaran Biologi memberikan materi pelajaran membuat tape dari bahan baku singkong.  Bayangkan di sini siswa tidak hanya diminta membuat.  Tetapi juga mendokumentasikan proses pembuatannya yang memakan waktu 2- 3 hari tersebut.  Diabadikan dengan photo di setiap tahapnya.   Divideokan hingga hari terakhir singkong telah menjadi tape, dan diupload sebagai konten Youtube.

Pelajaran berharganya tidak hanya proses fermentasi yang menjadi materi pelajaran Biologi.  Tetapi, siswa juga diminta untuk mencari tahu nilai ekonomisnya yang merupakan materi pelajaran Kewirausahaan.  Artinya peserta didik tidak menutup kemungkinan, dimulai dari pelajaran bahkan bisa menjadi ladang usaha nantinya.  Bahkan konten youtube yang dibuat siswa pun mempunyai muatan nilai lain, yaitu TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).

Hal-hal seperti inilah yang membutuhkan seorang pendidik yang mampu menguasai teknologi.  Inilah juga yang disampaikan oleh GNLD di acara Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi Guru Wilayah 3T di Kota Sorong beberapa waktu lalu.  Kenyataannya, di era digital dunia pendidikan harus juga berubah.  Tidak lagi bisa dengan cara yang konvensional, karena tidak menarik, dan tidak membuat siswa menjadi aktif tertarik mengikuti pembelajaran.

Kata kuncinya adalah pendidikan, dan jika Indonesia melakukan intensifikasi peningkatan keterampilan digital, utamanya di dunia pendikan.  Maka Indonesia siap untuk menyongsong Indonesia Emas, sebab ini selaras dengan merdeka belajar.  Di mana era digital memberikan banyak kesempatan baik bagi siswa ataupun tenaga pendidik untuk mengeksplorasi banyak hal dengan memanfaatkan ruang digital.