Remaja Citayam dan Julid Sosial

Remaja Citayam dan julid menghakimi netizen

https://bogor.suara.com/

Remaja Citayam, Depok dan Bojonggede belakangan mencuri perhatian publik karena kerap berkumpul di kawasan Sudirman Jakarta Pusat.  Tidak hanya mengekspresikan diri lewat gaya berbusana khas mereka yang kemudian dikenal sebagai Citayam Fashion Week.  Tetapi mereka juga berekspresi lewat konten Tik Tok dengan segala tingkah polahnya.

Mengutip pendapat pengamat Sosial dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati bahwa fenomena anak Citayam tidak lain adalah sebagai efek media sosial.  Mereka notabene merupakan entitas individu yang sedang dalam masa pencarian identitas, terpengaruh media sosial yang sering dikonsumsi.

“Di era digital sekarang mereka biasanya mau tidak mau akhirnya menjadi tawanan dari kepungan visual digital yang memang banyak menunjukkan referensi gaya hidup,” kata Devie kepada Tempo, Senin 4 Juli 2022.  Dikutip dari: tempo.co

Teringatnya ketika kita belum mengenal media sosial, maka televisi menjadi refrensi karena menampilkan kehidupan “menipu” yang terlihat nyata.  Tidak dapat pungkiri, sinetron remaja sering kali menampilkan kehidupan percintaan dan glamour yang seolah semua begitu indah.  Tetapi apakah dalam kehidupan nyata seperti itulah adanya kehidupan?  Sementara tidak sedikit remaja yang begitu terobsesi ingin mencontoh sosok-sosok idolanya ataupun hidup ala sinetron.

Kurang lebih hal yang sama kini terjadi pada fenomena remaja Citayam.  Sebab refrensi gaya hidup yang banyak berkeliaran di media sosial dan mendapatkan apresiasi masyarakat digital biasanya merupakan produk individu yang berasal dari kota-kota besar.  Terlebih dengan mudahnya transportasi untuk menjangkau kota besar menuju Jakarta misalnya.

“Hal inilah yang mengukuhkan kota sebagai pusat referensi, sebagai pusat rujukan perilaku, rujukan produk, rujukan pemikiran yang dalam hal ini ditransmisikan dikirimkan melalui ruang digital,” kata Devie.  Dikutip dari: tempo.co

Singkatnya, sebagai bagian dari kemajuan era digital media sosial seperti etalase yang penuh tawaran memikat.   Sementara kita sadari di era digital kehidupan remaja tidak dapat lepas dari media sosial.  Bahkan tidak jarang kehidupan nyata 24 jam pun terekspos di media sosial jadi tontonan.

https://ussfeed.com/

 

Inilah dampak kemajuan digital, bak mata uang dengan 2 sisinya.  Tidak terhindarkan ada dampak baik dan sekaligus buruk.  Sehingga tidak heran keberadaan remaja Citayam juga memancing julid atau komentar sinis.

Dampak buruk fenomena remaja Citayam adalah:

  • Memicu konsumerisme karena menghabiskan anggaran untuk fashion
  • Mencontohkan semi pergaulan bebas
  • Mengeyampingkan pendidikan
  • Mengotori lingkungan karena sampah

Dampak baik fenomena remaja Citayam adalah:

  • Meningkatkan kreatifivitas baik fashion ataupun konten
  • Membangun kebersamaan ketimbang tawuran
  • Membantu meningkatkan penghasilan PKL (Pedagang Kaki Lima) di sekitar
  • Dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata

Lalu bagaimana sikap kita?  Tidak perlu dijawab, karena di setiap perubahan akan selalu ada dinamikanya, dan selalu memiliki dua sisi.  Ujungnya adalah bagaimana kita menyingkapi perubahan agar dampak buruknya bisa diperkecil dan melihatnya lebih optimis.

Buktinya, selain fashion fenomena remaja Citayam pun ikut melahirkan selebritis dadakan seperti Jeje Slebew yang konon menjalin asmara dengan Roy Citayam.  Kemudian juga ada pasangan Bonge dan Kurma.  Keempat nama ini viral dan dikenal sebagai konten kreator kemudian.

Sekalipun disayangkannya konten yang dihadirkan mereka cenderung membuat perut mules karena kocaknya.  Bayangkan, bagaimana tidak mules melihat kelengketan Jeje bergelanyut super mesra ke Roy.  Akhirnya mengundang konten sejenis dari pasangan lainnya yang tidak kalah mulesnya.

Memang sih, asyik dan sah-sah saja.  Tetapi apakah tidak lebih baik jika para bocil (bocah cilik) ini diarahkan menghasilkan konten yang kreatif.  Ketimbang konten-konten ala ketemu jodoh paket hemat karena cepatnya.

Sebagai contohnya saja saat ini, dalam hal fashion mereka dapat ikut menggalakkan pemakaian produk dalam negeri.  Sehingga lewat konten mereka dan kehadiran Citayam Fashion Week produk Indonesia diperkenalkan.

Salah besar untuk orang yang hanya mentoknya julid mengomentari gaya berbusana para bocil ini.  Kenapa, karena keberanian berbusana ala mereka tidak lain adalah bentuk kretivitas mereka.  Refrensi yang mereka dapat di media sosial sebagai gaya hidup orang kota.  Kalaupun tidak terwujud 100 persen, tetapi kreativitas adalah modal untuk melangkah 1000 kaki kedepan jika ini dibina dengan baik.  Setali tiga uang dengan fashion, maka konten juga bagian dari kreativitas yang bisa diarahkan agar mendatangkan kebaikan.

Katakanlah fenomena remaja Citayam berawal dari mencari identitas.  Tetapi, di era digital bukannya tidak mungkin jika pemanfaatan media sosial juga dapat meningkatkan kemampuan kreatifitas konten dan diseminasi informasi masyarakat untuk menghasilkan berbagai variasi konten positif, informatif dan kreatif di media sosial.  Sehingga tidak salah jika para bocil ini dididik atau diasah kemampuannya agar lebih cakap berdigital.

Hal ini sejalan dengan yang pernah disampaikan oleh Johnny Plate Menteri Komunikasi dan Informatika bahwa Indonesia membutuhkan sembilan juta talenta digital dalam 15 tahun ke depan.  Tidak hanya untuk cakap menggunakan digital tetapi juga terliterasi dengan benar.  Singkatnya para generasi digital ini mengerti memanfaatkan teknologi agar produtif.  Sekaligus ini menjadi pendewasaan bagi netizen, untuk berhenti julid dan mengotori media sosial dengan komentar minus.

 

 

 

Saya, Gendhis yang mencintai negeri ini.

 

 

 

_____

 

*Gendhis, pegiat literasi media, pendukung tagar #WarasBernegara, #SayaSpartan

 

 

 

Sumber:

https://www.kompas.com/hype/read/2022/07/15/164833066/mengenal-4-remaja-citayam-fashion-week-yang-mendadak-populer?page=all

https://megapolitan.kompas.com/read/2022/07/15/06235841/remaja-citayam-nongkrong-di-dukuh-atas-wakil-wali-kota-depok-alun-alun?page=all

https://metro.tempo.co/read/1608728/anak-citayam-bojonggede-main-ke-jakarta-pakar-sosial-ui-ini-fenomena-metrosentrik

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20220717204214-20-822640/ramai-remaja-citayam-cat-walk-di-kawasan-stasiun-dukuh-atas