Saat Ajakan Kominfo untuk Jaga Ruang Digital Diabaikan, Jadilah Kegaduhan Masakan Non-Halal

Kominfo dan adab ruang digital kita
Kominfo dan adab ruang digital kita

Kementrian komunikasi dan informatika atau yang dikenal kominfo selalu menekankan pentingnya menjaga ruang digital. Hal ini juga beberapa kali disampaikan Menkominfo Johnny Plate. Akibat mengabaikan arahan ini, jadilah isu liar masakan padang berbahan daging babi seperti saat ini. Padahal jika diusut lebih lanjut, pemilik resto ternyata sudah menutup usaha sejak tahun 2020 dan hanya berjalan selama 3 bulan. Aneh sekali kalau isu lama tiba-tiba diblow up sedemikian rupa hingga memaksa kepolisian bertindak.

Ironisnya cuitan provokatif seorang ustadz dan juga pengguna media sosial aktif, ustadz Hilmi Firdausi justru mendapat dukunga Fadli Zon dan juga Anwar Abas di MUI. Entah mereka kurang kerjaan atau memang sengaja membuat gaduh sehingga berita lama diramaikan lagi. Bahkan sebagaian orang curiga jika isu ini dihembuskan untuk menutupi adanya rekening fantastis yang dimiliki ormas ekstrimis yang ditemukan kepolisian belakangan ini. Apapun motifnya, tak seharusnya tokoh-tokoh ini menjadi dalang kegaduhan mengingat profesi mereka sebagai ustadz, anggota DPR dan pengurus MUI.

Kini kita tahu dampak cuitan provokatif ini telah membuat pemilik resto dipanggil kepolisian meski akhirnya dilepas karena tak ditemukan tindak pidana. Masyarakat non muslim dibuat ketakutan melakukan inovasi produknya. Bahkan beberapa kepala daerah seperti gubernur Jatim malah sibuk operasi restauran padang ketimbang melakukan pekerjaan utama sebagai gubernur. Padahal di Jatim sendiri sedang mewabah penyakit kuku dan kulit yang dialami hewan ternak. Gara-gara isu basi media sosial, semua orang dibuat takut dan cemas berlebihan.

Nampaknya ajakan Kominfo untuk menjaga ruang digital harus menjadi sebuah aturan tersendiri. Kalau dulu ada peribahasa “mulutmu, harimaumu” yang artinya harus berhati-hati daa berbicara, maka kini berganti jadi “jarimu, harimaumu” karena apa yang kita ketikkan di media sosial bisa jadi bumerang di suatu hari nanti.

Johnny menegaskan pihaknya menghormati hak asasi manusia, kebebasan berbicara dan berserikat, dengan cara menjaga ruang digital yang bersih dan sehat.

“Karena kita sesama manusia, maka harus saling menjaga kebebasan yang lainnya. Jadi bukan tanpa batas, batasannya adalah kebebasan pihak yang lain. Kita menjaga human rights, freedom of speech, demokrasi, dijaga dengan baik dengan melakukan pengendalian ruang digital yang baik,” tandasnya.

Meski setiap negara mempunyai aturan dan perundang-undangan yang berbeda-beda, Johnny meminta kepada perusahaan teknologi global untuk mengikuti aturan yang berlaku di Indonesia.

Oleh karena itu, komunikasi dan koordinasi harus selalu dilakukan untuk menjaga ruang digital juga tetap sehat.

“Karena yang melanggar aturan dan undang-undang di Indonesia belum tentu melanggar aturan dan undang-undang di negara lain. Teknologi yang seharusnya bisa mengatur, belum belum mau barangkali. Saya enggak tahu apa alasan, tetapi secara teknologi harusnya regional coverage itu bisa diatur,” ujarnya.

Semoga saja tak ada lagi kegaduhan terkait SARA di media sosial kita. Contohlah negara-negara maju yang bersaing secara teknologi dan pemikiran ketimbang mempermasalahkan halal, non-halal. Bukankah air PDAM yang kita pakai juga berasal sebagain berasal dari sungai kotor yang mungkin kemasukan bangkai hewan yang haram. Kalau akhirnya kita mau memakai setelag diolah, lantas kenapa mempermasalahkan inovasi makanan yang sudah jelas tertulis non halal. Jangan jadi orang lemah iman yang dikit-dikit merasa dihantui oleh halal dan haram.

Kita harap Kominfo tak hanya mengeduki masyarakat umum, tapi juga mengeduki lembaga legislatif, ormas dan pemuka agama yang memiliki pengaruh ke pengikutnya. Sesekali bolehlah duduk bersama untuk edukasi cara mrnjaga ruang digital yang baik. Apalagi jaman sekarang tak perlu tatap muka, cukup agendakan zoom meeting dan lakukan kerja sama pada kelompok tersebut. Kita yakin Indonesia bisa jadi negara maju kalau mindset masyarakat maju ke depan dan mengesampingkan hal remeh temeh seperti di atas.

Sudah saatnya negara ini menjadi pemain utama teknologi, bukan hanya penonton seperti saat ini. Saat bahan baku baterai bisa kita produksi, Indonesia harusnya bisa membuat kendaraan listrik sendiri. Termasuk menghadapi tantangan digital yang tumbuh kian pesat. Sudah saatnya startup-startup berkembang pesat. Juga UMKM digital yang menjadi penooang pertumbuhan ekonomi ke depan. Kalau perkembangan ini terus menerus berjalan, bukan tak mungkin Indonesia melesat jadi macan di Asia Tenggara menyalip Singapura.

Salam Indonesia Maju!

Saya BTS, pegiat literasi digital dan media. Pendukung tagar #WarasBernegara, #SayaSPARTAN.

Referensi:

https://m.medcom.id/nasional/peristiwa/gNQeOnYN-menkominfo-ajak-masyarakat-bersama-sama-jaga-ruang-digital