Seandainya Partai Demokrat Dipimpin Moeldoko

Tulisan saya ini masih seputar Partai Demokrat. Tentu saja masih berupa pengandaian. Karena dalam kenyataannya, Partai Demokrat jauh berbeda dari yang saya bayangkan dan andaikan.

Kita tentu masih ingat, pada suatu masa, ada sekelompok anggota Partai Demokrat yang tidak menghendaki AHY menjadi Ketua Umum karena berbagai alasan. Dan sekelompok orang itu mengadakan Musyawarah Nasional tandingan dan memutuskan Moeldoko sebagai Ketua Umum mereka.

Tetapi akhirnya, usaha sekelompok orang ini kandas. Partai Demokrat yang dipimpin AHY tetap dianggap sebagai Partai Demokrat yang sah. Padahal, seandainya saja Partai Demokrat itu dipimpin Moeldoko, pasti banyak keuntungannya.

Dilihat dari kepangkatan dalam masa lalu mereka, ketentaraan yang keduanya sama-sama berasal dari TNI Angkatan Darat, ada perbedaan yang jauh.

Moeldoko, dalam dinas aktifnya sebagai anggota TNI, memiliki pangkat Jenderal bintang 4. Jabatan terakhirnya juga mentereng, sebagai Panglima TNI. Sementara itu, AHY pangkat terakhirnya adalah mayor, melati 1. Ada jenjang yang sangat jauh di antara pangkat mereka berdua. Jabatan terakhir AHY di TNIpun juga tidak kita ketahui.

Saat ini, AHY menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Secara hirarki, dia adalah pucuk pimpinan. Di bawahnya, ada anggota Partai Demokrat yang merupakan pensiunan jenderal. Sebut saja, Letjen TNI (Purn) C. Simbolon, juga ada Mayjen TNI (Purn) Syamsul Mapparenga. Tidak masuk di akal saya yang lemah ini, bagaimana perasaan seorang jenderal yang harus hormat ke seorang mayor.

Beda kalau yang menjadi Ketum Partai Demokrat adalah Moeldoko. Para jenderal itu akan dengan senang hati memberikan hormat ala militer ke Moeldoko. Karena secara hirarki kepangkatan di TNI, Moeldoko memiliki pangkat yang lebih tinggi. Dan secara hirarki partai, Moeldoko adalah ketua umum mereka.

Itu baru dari sisi kepangkatan di ketentaraan. Bagaimana dari sisi yang lain? Dari jabatan yang pernah mereka berdua emban?

Kita semua tahu, Moeldoko adalah mantan Panglima TNI. Dan sekarang beliau menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Sebuah jabatan yang cukup mentereng. Sementara, untuk AHY, kita tidak pernah tahu jabatan yang pernah dia duduki selama ini.

Seandainya Moeldoko menjadi Ketua Umum, Partai Demokrat bisa berdiri tegak dengan partai-partai yang lain. Dengan jabatan yang Moeldoko emban saat ini, Partai Demokrat tidak perlu malu dengan partai yang lain yang Ketua Umumnya memegang jabatan di pemerintahan. Atau paling tidak pernah memegang jabatan. Atau pernah menjadi anggota DPR RI.

Partai Demokrat bisa berdiri tegak bersama Partai Gerindra yang Ketua Umumnya seorang pensiunan jenderal bintang 3. Juga bisa berdiri tegak dengan Partai Golkar yang ketua umumnya menjadi menteri.

Partai Demokrat juga tidak perlu minder dengan Partai PKS yang ketua umumnya pernah menjadi anggota DPR RI.

Sayangnya, semuanya itu hanyalah pengandaian. Saat ini, Ketua Umum Partai Demokrat bukanlah Moeldoko, tetapi AHY.

Salam sehat Indonesia

 

Nugraha, pegiat literasi media

 

#WarasBernegara

#SayaSPARTAN

 

Sumber:

https://news.detik.com/berita/d-6054267/kubu-moeldoko-kalah-di-tingkat-banding-lawan-menkumham-soal-klb-demokrat

https://www.liputan6.com/news/read/3459972/barisan-pensiunan-jenderal-di-partai-politik