Seandainya SBY Sabar Mengorbitkan AHY

Saya sedang pingin menulis tentang Partai Demokrat, terlebih tentang mantan Presiden kita yang berasal dari Partai Demokrat. Mengapa? Yah, karena SBY baru ‘turun gunung’. Entah gunung mana yang dia turuni karena dia sudah sering turun gunung.

Saya hanya ingin berandai-andai saja tentang duo SBY dan AHY, duet bapak dan anak ini. Sebetulnya saya sudah ngebet mau menulis ini sejak lama, tapi saya tahan-tahan saja. Tetapi lama-kelamaan saya tidak tahan untuk tidak menulis.

Pengandaian saya ini dimulai sejak AHY gagal menjadi gubernur DKI, di mana dia langsung rontok di putaran pertama. Pemilihan gubernur DKI itu dilakukan tahun 2017. Memang, gugurnya AHY itu sudah diprediksi oleh banyak orang. Karena memang AHY tidak punya pengalaman sama sekali. Tidak punya pengalaman memimpin terutama memimpin daerah territorial.

Seandainya SBY sabar dan menunggu beberapa tahun (3 tahun) dan mau sedikit menurunkan ambisi untuk mendapatkan hal yang lebih besar, mungkin hasilnya akan lain.

Setelah pilkada DKI, seharusnya kubu SBY-AHY sedikit berinstropeksi. Seharusnya mereka menurunkan standar dulu. Pilkada DKI sudah menunjukkan bagaimana kualitas seorang AHY. Seharusnya mereka sedikit menurunkan standar. Kalau AHY tidak bisa atau tidak layak bertarung di kancah pilkada propinsi, turunkanlah standar sedikit saja. Berlaga di kancah kabupaten/kota.

Memang, pasti akan ada caci maki atau ejekan dan cemoohan. Mosok dari kancah gubernur turun laga ke kancah kabupaten. Tapi ya, mau bagaimana lagi? Lha wong memang kualitasnya seperti itu. Jadi harus turun standar sedikit saja.

Memang pertaruhannya sangat besar.  Kalau kalah di tingkat kabupaten/kota, pasti akan sangat menurunkan derajat dan ‘harga diri’ seorang AHY. Karena itu, harus dipastikan bahwa AHY akan menang di tingkat kabupaten/kota. Nah, supaya  AHY menang, dia bisa berlaga di kancah pilbub Pacitan. Dia pasti menang di sana.

Bupati yang sekarang, pada saat kampanye dulu memiliki slogan yang unik. Kalau yang lain-lain slogannya menggunakan kata yang memotivasi, semisal “Membangun kabupaten dengan hati.” Bupati terpilih itu hanya memiliki slogan ‘Keponakan SBY.’ Dan dia menang telak, (72%).

Nah, kalau AHY berlaga di kabupaten Pacitan, pasti dia menang. Tidak perlu slogan yang muluk-muluk. Cukup memakai kata ‘Yudhoyono’. Dia pasti menang. Saya jamin itu.

Setelah menjadi bupati, dia harus membangun kabupaten Pacitan. Kota Pacitan terkenal sebagai ‘Kota 1000 gua’. Maka, bangunlah Pacitan. Percantik gua-gua. Bila perlu, dibuatkan pesanggrahan dan menjadikan gua sebagai tempat wisata spiritual. Percantik museum SBY di Pacitan. Bila perlu, undang sekolah-sekolah untuk datang ke Pacitan. Berikan jamuan yang terbaik untuk para pelajar yang datang.

Percantik juga pantai-pantai di kabupaten Pacitan. Bila perlu, kerahkan buzzer untuk menunjukkan hasil kerja AHY di kabupaten Pacitan. Kabarkan ke seluruh Indonesia.

Setelah membangun Pacitan, dan membuatnya terkenal di seluruh Indonesia, dia bisa berlaga di tingkat propinsi. Tidak perlu langsung di DKI. Berlaga dulu di propinsi Jawa Timur.

Saya yakin, dia bisa menang di Jawa Timur. Setelah menang, bangunlah Jawa Timur. Bila perlu, blusukan ke desa-desa. Bila ada peresmian proyek yang menggunakan dana desa dari Kementerian Desa, datangi dan ikut meresmikan proyek. Diejek dan dicemooh, biarkan saja. Tinggal menjawab, itu salah satu tugas gubernur. Ikut mengawasi dan meresmikan proyek yang dijalankan di propinsi yang berada di bawah wewenang kita.

Jika sudah moncer di Jawa Timur, namanya akan dikenal di seluruh Indonesia. Dia akan bisa berlaga di tingkat nasional. Bisa juga ikut berlaga lagi di pilkada DKI. Atau langsung berlaga di Pilpres.

Tapi sekali lagi, semua itu hanyalah pengandaian. Bukan kenyataan. Kenyataannya, ya gitulah.

 

Salam sehat Indonesia.

 

Nugraha, penggiat literasi media.

 

#WarasBernegara

#SayaSPARTAN

 

Sumber:

https://www.antaranews.com/berita/1896988/hasil-rekapitulasi-pilkada-pacitan-keponakan-sby-raih-72-persen-suara