Selamat Datang di Ende, Kota Kelahiran Pancasila, Pakdhe Jokowi

Jika Jokowi beneran datang di Ende, maka beliau adalah Presiden RI ke dua yang injakkan kaki di Ende. Yang pertama adalah Presiden Soekarno, orang yang berpuluh tahun sebelumnya menemukan Pancasila tatkala diasingkan Belanda di kota tersebut.

Presiden Jokowi bersama penulis yang merupakan putra asli Ende
Penulis yang merupakan putra asli Ende bersama Jokowi saat beliau masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, 2013.

Masyarakat Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang menanti kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk merayakan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni 2022 di kota Pancasila itu.

Jika Presiden Jokowi benar datang ke Ende, maka Jokowi adalah Presiden kedua yang memasuki kota Ende setelah Presiden pertama sekaligus Proklamator yaitu Presiden Soekarno.

Presiden lainnya setelah Soekarno maupun sebelum Jokowi, mungkin ke NTT bahkan ke wilayah Ende dan mengunjungi Taman Wisata Nasional Danau Kelimutu, namun tidak satupun ada yang benar-benar memasuki Kota Ende.

Hal ini tentu menimbulkan banyak rumor soal alasannya. Saya berharap Presiden Jokowi mengunjungi Kota Ende kali ini, tidak dikarenakan adanya narasi yang disebarkan oleh Dosen Filsafat yang bernama Rocky Gerung tentang pemahamannya atas Pancasila.

Sesungguhnya saya telah meminta beberapa senior untuk memberikan narasi alternatif sebagai penyeimbang agar generasi muda memiliki pilihan kritis-rasional dan tidak hanya disodorkan dengan narasi oleh Rocky Gerung.

Rocky Gerung sekali lagi menebar narasi yang dapat dikategorikan sebagai narasi yang disebut bahaya laten bagi generasi muda kita, bahkan dapat masuk ke dalam pikiran generasi muda dan mempengaruhi cara berpikir mereka atas Pancasila yang telah menjadi nilai dan ideologi yang telah disepakati dan diterima oleh para pendahulu kita untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Narasi Rocky Gerung yang dapat menjadi bahaya laten apabila diterima mentah-mentah oleh generasi muda tanpa adanya pembanding, mencakup beberapa pernyataan kontradiktif;

Pertama, pernyatan Rocky Gerung bahwa suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi, yang memiliki ideologi adalah personal.

Kedua, pernyataan Rocky Gerung bahwa Pancasila bukanlah sebuah ideologi, hanya di masa Jokowi ini pancasila disebut sebagai ideologi karena Jokowi tidak mengerti sedikitpun soal ini.

Ketiga, pernyataan Rocky Gerung bahwa Soekarno menyebut Pancasila sebagai philisophische gurndlag; Soeharto menyebutnya sebagai azas, bahkan azas tunggal negara, mereka tidak pernah mengatakan Pancasila sebagai ideologi negara.

Narasi Kontradiktif dan Narasi Alternatif

Menurut penulis, narasi Rocky Gerung tersebut adalah lemah dan berbahaya jika dipahami setengah-setengah oleh seluruh rakyat Indonesia, khususnya generasi muda yang merupakan penerus, pewaris bahkan pemimpin dari bangsa yang besar ini.

Oleh karena itu, penulis sebagai salah satu rakyat Indonesia yang cinta akan Negara Kesatuan Republik Indonesia, merasa berkewajiban untuk memberikan narasi alternatif bagi seluruh rakyat Indonesia;

Pertama, pernyataan Rocky Gerung bahwa ideologi negara itu ada di facism dan komunis, jelas kontradiktif dengan statement Rocky Gerung yang mengatakan bahwa tidak ada negara yang memiliki ideologi hanya personal yang memiliki ideologi.

Jika Rocky Gerung mengatakan ada negara yang memiliki ideologi minimal facism dan komunis, nyatanya ideologi yang berkembang di dunia internasional bukan hanya kedua ideologi tersebut.

Seperti yang kita ketahui, kapitalisme dan liberalisme juga merupakan sebuah idelogi yang dianut oleh dunia internasional. Jika tidak ada kedua ideologi tersebut, kita tidak akan terus-menerus menyebut Negara Barat sebagai negara kapitalis (Rocky Gerung juga sering mengatakan ini).

Negara Blok Barat umumnya menganut ideologi kapitalis dan Negara Blok Timur pada umumnya menganut ideologi komunis. Masa perang dingin, setelah perang dunia kedua kita sebut masa perang ideologi. Ideologi sosialisme dengan ekstrimnya komunisme ‘berperang’ melawan kapitalisme dengan ektrimnya free fight liberalisme.

Oleh karena itu, negara jelas menganut sebuah ideologi, dan pernyataan Rocky Gerung pada poin pertama gugur dengan sendirinya dikarenakan kontradiksi dengan pernyataannya sendiri.

Kedua, pernyataan Rocky Gerung yang mengatakan bahwa hanya Jokowi yang menyebutkan Pancasila sebagai ideologi negara, juga merupakan pernyataan yang kontradiksi dengan narasinya terkait penyebutan presiden Soekarno maupun presiden Soeharto atas Pancasila.

Presiden Soekarno mengatakan Pancasila adalah philosophische grundslag juga kadang dipakai istilah welt anschauwung, kita akan lihat saberapa jauh perbedaannya dengan pengertian ideologi.

Walaupun kedua Presiden kita (Soekarno dan Soeharto) tidak pernah mengatakan Pancasila adalah ideologi, namun selama masa pemerintahan mereka, kedua Presiden tersebut terbukti melakukan segala hal dalam upayanya mempertahankan Pancasila yang dihadapkan dengan idologi-ideologi besar di dunia.

Masa pemerintahan Presiden Soekarno, Lancasila dihadapkan dengan Liberalisme dan Kapitalisme, yang bahkan oleh Presiden Soekarno dijabarkan dan dikemukakan dengan istilah neo-kapitalisme dan neo-liberalisme; kedua istilah tersebut bahkan masih digunakan hingga saat ini oleh dunia internasional.

Presiden Soekarno menolak kedua paham (ideologi) tersebut dan mengatakan pilihan Republik Indonesia yang terbaik adalah Pancasila. Katakan jika Rocky Gerung benar, Presiden Soekarno tidak penah mengatakan Pancasila adalah ideologi. Nyatanya, presiden Soekarno menentang ideologi Kapitalisme dan Liberalisme dengan mendorong alternatif Pancasila, ini adalah bukti bahwa oleh Presiden Sukarno Pancasila disejajarkan dengan ideologi-ideologi tersebut.

Logikanya, bagaimana menolak sebuah ideologi negara tanpa menganut alternatif ideologi lainnya?

Masa pemerintahan Presiden Soeharto sudah menjadi rahasia umum, bahkan menjadi peringatan setiap tahunnya, Pancasila dihadapkan dengan ideologi Komunisme.

Terbentuknya lembaga seperti Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) merupakan salah satu langkah Presiden Soeharto mendorong dan mempertahankan Pancasila sebagai satu-satunya pilihan untuk mengeluarkan program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

Kedua Presiden kita, baik Soekarno maupun Soeharto yang disebutkan oleh Rocky Gerung, jelas membandingkan dan menempatkan Pancasila sejajar dengan ideologi-ideologi besar di dunia. Oleh karenanya, Pancasila jelas merupakan sebuah ideologi alternatif yang hingga saat ini dianut oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merupakan pilihan terbaik kita dalam mempertahankan kesatuan negara ini. Di mana susahnya pengertian ini diterima?

Masa kini (masa presiden Jokowi), kita berhadapan dengan kelompok yang menyandang radikalisme agama dengan salah satu tujuannya mengubah Negara Indonesia untuk diatur dengan hukum agama yang selalu diidentikkan dengan nama Khilafah.

Apakah ini ideologi atau bukan, terserah pendapat orang-orang pintar seperti Rocky Gerung. Yang jelas, bagi kita yang “dungu” ini, kembali terdapat upaya yang nyata dari sekelompok orang untuk menggantikan Pancasila, dan akan kita tolak sampai kapan pun. Itu sikap kita sampai kapan pun.