Siapa Bilang Anies Itu Konyol? Dia Cerdas

Ini bukan masalah gelar, tapi tentang tindakannya.

Anies ganti nama 22 jalan

Kita pasti sudah mendengar berita tentang ‘perbuatan’ Anies sebagai gubernur DKI baru-baru ini. Ada 2 ‘tindakan’ Anies yang membuat banyak orang terhenyak, mengernyitkan dahi, tapi akhirnya tertawa. Tertawa karena melihat tindakan seorang gubernur yang tidak mencerminkan jabatannya.

Lalu, tawa itu berubah menjadi makian dan celaan. Banyak orang mencela tindakan gubernur DKI ini karena mengakibatkan kerugian pada masyarakat.

Tindakan yang pertama yaitu dia mengganti nama beberapa jalan di Jakarta. Anies mengganti nama 22 jalan di Jakarta dengan nama tokoh-tokoh Betawi. Hal ini mengakibatkan beberapa konsekuensi bagi warga. Mereka harus mengganti alamat rumah, mengganti KTP, mengganti semua dokumen termasuk STNK, BPKB, kartu pajak, dan yang lain-lainnya.

Banyak warga yang keberatan dan memprotes hal itu. Meskipun penggantian KTP tidak dipungut biaya, tetapi penggantian dokumen lain, misalnya BPKB dan STNK, memerlukan biaya untuk perubahan alamat ini.

Apakah Anies merespon protes warga? Menurut berita yang saya ikuti, tidak ada respon Anies. Bahkan secara tersirat dia menyampaikan bahwa penggantian nama jalan akan dilakukan lagi. Perubahan 22 nama jalan itu baru tahap pertama. Akan ada tahap kedua untuk pergantian nama jalan.

Setelah mengganti nama jalan, Anies melakukan lagi satu ‘tindakan’ yang juga mengundang tawa dan senyum sinis banyak orang. Dia mengubah nama 31 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) DKI Jakarta menjadi Rumah Sehat Untuk Jakarta. Banyak orang memelesetkan menjadi RSJ.

Hal itu dia lakukan untuk mengubah pola pikir warga Jakarta yang selalu datang ke rumah sakita karena sedang mengalami sakit. Diharapkan, warga yang datang ke RSUD bukan hanya saat sakit, tetapi juga ketika sehat.

Tindakan inipun menimbulkan konsekuensi logis juga. Terutama adanya perubahan dokumen. Untungnya, atau sialnya, perubahan nama ini hanya untuk RSUD saja. Khusus untuk rumah sakit milik pemerintah daerah DKI Jakarta. Rumah sakit swasta tidak mengalami perubahan nama. Perubahan nama untuk rumah sakit swasta akan langsung diajukan ke Kementerian Kesehatan.

Banyak orang menganggap kebijakan Anies ini konyol, merugikan rakyat. Cacian dan hinaan melanda dia. Tetapi dia tetap saja keukeuh dengan keputusannya.

Berbeda dengan banyak orang, saya justru menganggap Anies ini cerdas. Perubahan nama itu adalah salah satu bentuk kecerdasan Anies. Bukan karena pendidikannya yang sampai jenjang doctor, dengan ijasah asli. Tetapi karena perubahan nama inipun mencerminkan kecerdasan Anies.

Anda pasti tidak percaya dan menentang anggapan saya ini. Tetapi akan saya jelaskan mengapa tindakan Anies ini cerdas.

Selama ini, masalah warga yang paling kompleks di Jakarta adalah masalah kemacetan dan banjir. Dan perubahan nama ini adalah salah satu solusi memecahkan masalah kemacetan. Anda tidak percaya?

Mari kita ambil pengandaian saja. Ini hanya perumpamaan dan pemisalan. Misalnya, jalan yang sering macet di Jakarta adalah jalan Bambu Apus. Misalkan, jalan ini sangat terkenal sebagai jalan yang paling macet. Nama Jalan Bambu Apus sering dihindari karena kemacetannya. Orang-orangpun sudah hafal. Bahkan orang luar Jakartapun tahu. Sekali lagi ini hanya misal.

Dan sekarang, jalan tersebut diganti dengan jalan Mpok Nori. Maka, ketika ada orang bertanya tentang jalan yang macet, Anies akan menjawab begini.

“Orang tahunya Jalan Bambu Apus sangat macet. Nah, sekarang, jalan Bambu Apus tidak macet sama sekali. Tanya saja ke warga Jakarta yang lain. Mereka akan menjawab, Jalan Bambu Apus tidak lagi macet.”

Bagaimana mau macet? Lha wong jalan Bambu Apus sudah tidak ada lagi. Nah, cerdas kan? Itu salah satu solusi mengatasi kemacetan.

Lalu bagaimana dengan perubahan nama rumah sakit di Jakarta? Ingat, semua rumah sakit pemerintah sudah berganti nama menjadi Rumah Sehat. Rumah sakit hanya dimiliki oleh pihak swasta. Maka, ketika ada pertanyaan seputar tingkat kematian di rumah sakit, jawaban Anies akan begini.

“Tingkat kematian di rumah sakit sudah sangat menurun. Demikian juga orang-orang sakit yang dirawat di rumah sakit sudah sangat jauh berkurang. Tingkat kesehatan sudah meningkat karena orang yang dirawat di rumah sakit tinggal sedikit.”

Sekali lagi, tentu saja menurun. Karena yang ada di RSJ tidak dihitung. Kan yang dihitung hanya yang di rumah sakit, bukan yang di rumah sehat? Cerdas kan?

Itulah salah satu solusi mengurangi angka kematian dan perawatan di rumah sakit. Cerdas kan? Siapa tahu, nanti kampung-kampung yang mengalami banjir juga akan diganti nama sehingga kampung tersebut tidak lagi banjir. Siapa yang tahu?

Dan saya hanya geleng-geleng kepala sambil mengelus dada, dada saya sendiri.

 

Salam sehat Indonesia

 

Nugraha, pegiat literasi media.

 

#WarasBernegara

#SayaSPARTAN

 

Sumber:

https://metro.sindonews.com/read/808249/171/anies-ganti-nama-22-jalan-di-jakarta-ini-respons-kemendagri-1656115580

https://www.liputan6.com/news/read/5033550/6-fakta-anies-ganti-nama-rsud-jadi-rumah-sehat-jakarta