Survey Litbang Kompas, Pasangan Ganjar-Mahfud Terjun Bebas

Dulu teratas, sekarang anjlog bahkan terjun bebas dan berada di urutan paling bawah. Itulah yang terjadi pada pasangan Ganjar-Mahfud berdasarkan survey terbaru Litbang Kompas. Hal ini harusnya menjadi alarm bahaya bagi tim pemenangan pasangan Ganjar-Mahfud (GAMA).

Mengapa menjadi alarm? Berdasarkan pengalaman, survey Litbang Kompas adalah survey yang sangat dipercayai oleh banyak orang. Bahkan survey ini paling mendekati kenyataan karena memang survey ini diadakan di seluruh Indonesia, melibatkan ribuan responden.

Survey terbaru ini diadakan di 38 propinsi dan melibatkan 1.364 responden dari berbagai usia. Kebetulan saya menjadi salah satu responden untuk kegiatan survey kemarin. Jadi saya tahu bagaimana survey ini diadakan.

Ada beberapa kriteria usia dengan latar belakang yang berbeda-beda karena dipilih secara acak. Tapi sudahlah, saya tidak akan membicarakan survey Litbang Kompas ini. Karena apa? Pertanyaannya banyak sekali..hahaha… Ada hampir 200 pertanyaan.

Yah, meskipun jawabannya hanya ya dan tidak, atau yakin sekali atau tidak, tetap saja pertanyaannya banyak. Selain itu, banyak sekali cerita yang keluar dari mulut saya. Dan juga sharing dari mereka. Akhirnya, 3 jam berlalu. Kami menghabiskan waktu 3 jam untuk melengkapi survey itu.

Tapi sudahlah, saya mau membahas anjloknya elektabilitas pasangan GAMA ini.

Kurang Pergerakan di Akar Rumput

Menurut salah satu peneliti di Litbang Kompas, anjloknya elektabilitas pasangan GAMA adalah kurangnya pergerakan di akar rumput.

Memang di media social dan di pusat, atau di kalangan atas, pasangan GAMA terlihat gegap gempita. Banyak kampanye dan ‘promosi’ pasangan GAMA dilakukan. Tetapi di akar rumput, hal itu tidak terjadi. Tidak banyak terjadi pergerakan di akar rumput.

Saya setuju dengan hal ini. Pasangan GAMA tidak banyak melakukan pergerakan di kalangan bawah. Banyak masyarakat tidak mendapatkan informasi tentang pasangan GAMA ini. Ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh pasangan Prabowo-Gibran (Pragi).

Pergerakan yang massif dilakukan oleh pasangan Pragi di kalangan bawah. Mereka menyebarkan banyak spanduk dan tabloid. Bahkan di warung-warung angkringan, banyak terjadi diskusi tentang pasangan Pragi ini.

Intinya, kalangan bawah lebih mengenal Prabowo daripada Ganjar dan Mahfud. Mungkin ini salah satu keuntungan Prabowo maju 3x sebagai calon Presiden. Namanya sudah melekat di kalangan bawah. Sementara nama yang lain masih terasa asing.

Kampanye Hitam Pendukung GAMA

Hal yang kedua, ini menurut saya (versi saya), yang menyebabkan anjloknya pasangan GAMA adalah kampanye ‘hitam’ yang dilakukan oleh pendukung GAMA.

Kita mengetahui, begitu banyak serangan dan hujatan yang dilakukan oleh pendukung GAMA ini, yang anehnya bukan diarahkan ke pasangan lain, tapi justru diarahkan ke keluarga Jokowi. Memang, Gibran menjadi rival pasangan GAMA. Tetapi serangannya justru diarahkan ke keluarga Jokowi yang lain. Ibu Iriana diserang. Istri Gibran, Silvi, juga diserang.

Serangan yang ditujukan ke pribadi tersebut lambat laun membuat masyarakat menjadi tidak suka. Bahkan mungkin malah menjadi muak. Hal ini dapat membuat pemilih pemula menjadi tidak suka dan mengalihkan pilihan mereka ke pasangan lain.

Terus terang, muncul pertanyaan di hati saya. Sebetulnya pertanyaan ini sudah sejak lama berdengung di kepala saya.

“Mengapa harus menyerang secara pribadi?”

“Mengapa tidak mengunggulkan pasangan yang mereka dukung?”

“Apakah pasangan mereka tidak memiliki sesuatu yang bisa diunggulkan? ”

Ketika rasa tidak percaya diri itu muncul, maka kita mulai menjelek-jelekkan dan menyalahkan orang lain. Betul?

Bagaimana dengan Anda?

 

Salam sehat Indonesia

 

Sumber:

https://nasional.kompas.com/read/2023/12/11/13532411/survei-litbang-kompas-elektabilitas-ganjar-anjlok-banyak-pendukung-jokowi

https://www.merdeka.com/politik/peneliti-litbang-kompas-blak-blakan-penyebab-elektabilitas-ganjar-pranowo-terjun-bebas-60360-mvk.html?screen=12

Exit mobile version