Ternyata Memang Lebih Enak Zaman ORBA

Masih ingatkah Anda semua tentang apa yang dikatakan oleh koordinator BEM SI? Intinya, dia mengatakan bahwa zaman ORBA lebih enak daripada zaman Jokowi. Lama saya merenung, bahkan berdiskusi dengan teman-teman di sebuah grup WA. Akhirnya, saya berkesimpulan. Memang lebih enak hidup di zaman ORBA dibanding saat ini.

 

Zaman ORBA, tidak ada listrik. Jadi kalau kita lagi pacaran, tidak akan ada orang yang melihat. Semuanya gelap gulita. Tidak ada yang tahu apa yang kita lakukan. Semuanya gelap. Bahkan kita dapat main ke rumah tetangga tanpa ada yang tahu. Sangat mudah. Apalagi kalau kita punya kunci rumahnya. Tinggal colok dan klik, pintu sudah terbuka. Enak kan?

 

Zaman ORBA, banyak jalan belum diaspal. Jadi kalau kita boncengan, kita tidak perlu mencari polisi tidur untuk dapat mengaktifkan modus. Semua jalan bergelombang. Tidak perlu modus, kita akan selalu berguncang-guncang dan terguncang-guncang. Selain itu jalan juga banyak yang becek di kala hujan. Jadi kita naik motor berlama-lama. Tidak akan tergesa-gesa untuk sampai di rumah. Apalagi kalau hari sudah malam. Semakin asyik kan?

 

Di zaman ORBA, kalau kita mau nonton televisi, kita harus ke rumah tetangga yang memiliki televisi. Jadi kita bisq nonton beramai-ramai. Selalu ada suguhan dari tuan rumah. Ada makanan dan minuman. Televisinya juga tidak memakai listrik kar3na listrik belum masuk ke desa. Kita menyalakan televisi dengan tenaga accu (batere mobil). Mereka tidak punya mobil, tapi punya baterenya.

 

Zaman itu televisi juga masih hitam putih. Jadi tidak begitu menyolok mata. Berbeda dengan TV zaman sekarang yang berwarna. Sangat tidak nyaman di mata. Zaman itu stasiun televisi juga hanya ada 1, yaitu TVRI. Jadi kita tidak perlu bingung-bingung mencari saluran TV. Asyik kan? Tidak seperti sekarang yang banyak salurannya. Bingung memilihnya. Bahkan sampai rebutan televisi.

 

Zaman ORBA dulu, televisi ada pajaknya. Bahkan radiopun ada pajaknya. Bahkan sepeda onthelpun ada pajaknya. Kalau di Jogja, namanya ‘plembir’. Saya tidak tahu bahasa Indonesianya apa. Jadi kalau naik sepeda, kita harus waspada. Kita harus melatih mata kita untuk melihat jarak jauh. Begitu kita melihat ada orang berseragam hijau (Hansip), kita langsung berhenti dan balik kanan. Atau mencari jalan yang lain. Karena kalau kita tidak memiliki ‘plembir’ yang ditempel di sepeda, kita harus membeli. Asyik kan? Enak, kan?

 

Zaman ORBA dulu kehidupan tenang. Tidak ada demo. Bahkan tidak ada perdebatan di DPR. Semua harus musyawarah mufakat. Semua harus saling menghargai. Harus satu suara. Berbeda boleh saja. Misalnya, mereka berdiskusi tentang A. Yang lain boleh berbeda. Ada yang A besar, ada yang A kecil, ada yang alpha. Tidak boleh B. Asyik, kan? Enak kan?

 

Zaman ORBA dulu tidak ada demo. Jadi jalanan juga tidak macet. Jadi bisa Anda bayangkan, jalanan belum diaspal dan pada saat yang bersamaan, ada demo. Sekali lagi, tidak ada demo. Kalau ada demo, esok harinya para pendemo itu sudah kembali pulang. Karena mereka dipulangkan sehingga berpulang dan pelesir ke surga.

 

Zaman ORBA dulu, saya bisa menikmati makanan dengan bebas. Saya bisa makan bakso, bisa makan sate kambing, bisa makan soto kikil sebanyak yang bisa saya beli. Sekarang di zaman Jokowi? Saya tidak bisa menikmati semuanya itu. Berbahaya. Asam urat.

 

#warasbernegara

 

Sumber Foto:

https://mv.beritacenter.com/news-308602-kebodohan-ketua-bem-si-orba-lebih-bebas-bicara-dari-pada-era-jokowi-pegiat-medsos-dungu-kok-jadi-koordinator-bem-si.html