Trust Is A Comedy

Minggu lalu kampus saya mengadakan lomba English Literacy Competition, Lomba Literasi Bahasa Inggris dengan materi Reading. Fokus dari lomba ini adalah para peserta mampu membaca bukan saja apa yang tersurat, tapi lebih pada apa yang tersirat.

Pembuatan soal juga berdasarkan pada Higher Order Thinking (HOT). Para peserta diajak untuk mampu melihat sesuatu yang tersembunyi, dan mereka mendapatkan jawaban berdasarkan apa yang tersirat di dalam teks yang mereka baca.

Karena tidak memungkinkan untuk diadakan secara luring, lomba diadakan secara daring menggunakan aplikasi G-Form. Keuntungan dari lomba yang diadakan secara daring adalah daya jangkaunya yang lebih luas.

Bila diadakan secara luring, mungkin kami hanya bisa menjangkau wilayah Yogyakarta saja. Tapi dengan mengadakannya secara daring, daya jangkaunya bisa mencapai seluruh Indonesia.

Tapi memang ada kelemahannya. Kita tidak dapat memantau apakah mereka mengerjakannya secara jujur atau tidak. Hal ini memicu salah seorang peserta merasa tidak puas dan kami berdiskusi seru di Whatsapp.

Setelah lama diskusi, dia mencetuskan sesuatu. Tulisan dalam bahasa Inggris di bawah ini sudah mengalami proses editing.

How do you know that they do not cheat?”

Saya sedikit tertawa. Lalu membalas chat-nya.

“Just like I said in the TM (Technical Meeting). I cannot monitor one by one. But I just trust them. I trust them, just like I trust you”.

Ya, memang. Mau bagaimana lagi? Saya hanya bisa percaya pada mereka. Saya percaya pada para peserta, sebagaimana saya percaya padanya.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat saya tergelitik.

“Sir, todays, trust is just like a comedy.”

Dia mengatakan bahwa trust, kepercayaan, adalah sebuah komedi, sesuatu yang lucu. Tapi bagi saya, itu bukan suatu komedi. Karena itu, saya membalasnya.

“For you, it might be a comedy. But for me, it is NOT”.

Bagi saya, kepercayaan bukanlah sebuah komedi. Bagi dia, mungkin suatu kepercayaan adalah sebuah hal yang lucu. Sebuah komedi. Mungkin dia sering mengalami hal yang mengecewakan yang berhubungan dengan kepercayaan.

Saya tidak mengatakan bahwa orang tuanya tidak mempercayai dia. Tidak. Tetapi saya mengatakan bahwa mungkin dia mengalami kekecewaan dalam hal yang membutuhkan kepercayaan. Dan kekecewaan itu dia bawa dan dia menganggap kepercayaan sebagai sebuah komedi.

Tapi bagi saya, sama sekali tidak. Saya menaruh kepercayaan pada mereka. Saya percaya pada para peserta. Saya percaya bahwa mereka akan jujur. Jika mereka tidak jujur, itu masalah mereka, bukan masalah saya.

Bagaimana kita bisa meminta orang-orang untuk percaya pada kita jika kita sendiri tidak pernah mempercayai orang lain.

“I trust them. If they break my trust, it’s not my problem. It’s theirs.”

Sebagai seorang dosen, saya mempercayai mereka bukan melulu sebagai sebuah kewajiban atau keputusasaan. Maksudnya, mau bagaimana lagi, lha wong lombanya daring kok. Bukan. Tetapi itu sebagai teladan bahwa kita bisa menaruh kepercayaan kita pada orang lain. Kita memberi teladan, bukan hanya kata-kata.

Ketika seseorang menodai kepercayaan kita, kita pasti akan kecewa. Dan itu pasti. Siapa yang tidak sakit hati ketika kita dikecewakan oleh orang yang kepadanya kita menaruh kepercayaan kita.

Dan ketika kita harus memberi dia kesempatan lagi, dan kita memberi dia kepercayaan lagi, ruang lingkup yang kita berikan ke orang yang bersangkutan pasti akan kita perkecil.

Misalnya, kita mempercayai seseorang untuk menjadi Ketua RT karena kita tahu bahwa dia bagus dan bisa menjalankan tugasnya. Tetapi ketika dia tidak bisa, bahkan menodai kepercayaan kita dengan misalnya menyelewengkan kas RT, apakah kita akan mempercayakan dia untuk menjadi Ketua RT lagi? Atau meminta dia untuk menjadi Lurah?

Pasti tidak. Kita pasti akan meminta dia untuk bertanggung jawab pada lingkup yang lebih kecil. Menjadi seksi keamanan misalnya. Karena kita sudah mengalami bagaimana orang tersebut bekerja dan bagaimana orang tersebut tidak mampu menjaga kepercayaan kita.

Jadi, ketika ada seorang yang kita percaya untuk menjadi Gubernur, dan dia gagal menjadi Gubernur, janji-janjinya tidak ditepati, apakah kita akan mempercayai dia untuk menjadi Kepala Negara? Apakah kita masih menaruh kepercayaan padanya untuk menjabat sesuatu yang lebih besar dan lebih penting?

 

Salam sehat Indonesia.